Jurnal saya yang bingung kalau mau ngomong tapi gampang kalau nulis

Sabtu, 07 Februari 2026

JOGJA ANOTHER TIME - SHORT TRIP JOGJA

 

Lewat Malioboro

Jujur saja sih, saya tidak tertarik ke Jogjakarta untuk menghabiskan hari-hari terakhir. Karena sepengetahuan saya, di hari biasa saja pasti sudah ramai. Mau seperti apa itu ramainya kalau menjelang tutup tahun? Bukannya tidak ada keinginan untuk menyusuri jalan di Malioboro bareng ibu. Tapi oh tapi, apakah dia nyaman dengan begitu banyak orang selagi duduk di kursi roda? Plus, cuaca yang tidak menentu yang bisa dadakan hujan lalu panas. 

Postingan ini dibuat dalam rangka jalan-jalan singkat :

Hotel Jambuluwuk Jogja

Stasiun Gambir - Trip 2026

Element by Petit Paris 

Tempo Gelato 




Walau sudah menduga kami tidak akan jalan-jalan di sekitaran Malioboro tapi tidak menyangka juga sih bakalan tidur melulu di hotel. Ini macam pindah tempat tidur saja pas pergantian tahun dong. Yah, setidaknya saya sudah sampai Jogjakarta dua kali lah dalam hidup ini (halah).

Ketika kami baru sampai di Jogja tanggal 31 Desember 2025, berkat kebaikan hati petugas di stasiun KAI yang membantu mencarikan taksi, kami ketemu deh sama pak Martin driver Blue Bird. Nah, saya minta muter sajalah di jalan Malioboro karena masa sih lewat saja tidak kesampaian?

Nah, sambil dianterin sama pak Martin (yang nyengir pas tahu ibu saya belum pernah ke Jogja sama sekali) ia pun menjelaskan mengenai area tersebut. 

Menurut pak Martin sih, sebenarnya Jogjakarta tidak seramai yang dibayangkan sama pengunjung. Kalau lagi ada libur panjang apalagi long weekend, Lebaran dan akhir tahun baru seperti saat ini, nah baru deh ramai. Tapi di hari-hari biasa tidak ramai karena banyak turis hanya singgah sejenak di kota. Kebanyakan dari mereka melanjutkan perjalanan ke luar kota Jogjakarta. Ada benarnya juga ya; karena 10 tahun yang lalu pun saya dan rekan-rekan kantor hanya memiliki waktu singkat di kota Jogjakarta. Kami lebih banyak berada di area lain seperti mengunjungi Candi Borobudur dan wisata ke Goa Pindul serta pantai Baron dan Indrayanti. Pak Martin juga mengusulkan agar lain kali kami mengunjungi Sleman. 





SEDIKIT CERITA TENTANG MALIOBORO

Dikutip dari Teras Malioboro Jogja ; asal usul nama Malioboro dari bahasa Sansekerta : Malyabhara yang berarti karangan bunga. Sementara teori yang umum beredar di masyarakat; penamaan tersebut  berasal dari seorang kolonialis Inggris: Marlborough. Namum hal ini dibantah oleh para sejarawan. 

Malioboro dibangun oleh bukan sekadar jalan biasa, melainkan bagian dari Garis Imajiner atau Sumbu Filosofi Jogjakarta yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton, dan Laut Selatan. Jalan ini melambangkan perjalanan manusia menuju kedewasaan dan spiritualitas.

Dan pada tahun 2023, UNESCO resmi menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta ini sebagai Warisan Budaya Dunia. Jadi, saat kamu berjalan di trotoar Malioboro yang sekarang sudah rapi itu, kamu sebenarnya sedang berjalan di atas situs warisan dunia yang diakui secara internasional. Beritanya bisa kalian cek di situs RRI dan tentunya di UNESCO juga ya. 





RUTE BUAT PENGGUNA KURSI RODA  (KATA CHAT GPT)

Saya antara menyesal dan tidak karena batal mencoba jalan di Malioboro bareng ibu. Yah, menyesalnya karena ingin mencoba langsung jalurnya buat pengguna kursi roda. Tapi pengunjung sore menjelang pergatian tahun ke 2026 sudah mulai berdatangan di sepanjang jalan Malioboro. Nah, jadi saya minta CHAT GPT untuk membuatkan rute buat kami di sepanjang jalan Malioboro.

Ohya karena saya baru sekali ke sini di tahun 2014, jadi kurang tahu apakah informasi yang diberikan CHAT GPT akurat atau malah ngaco. Tentunya saya berharap banget teman-teman berkenan mem berikan informasi dan masukan ya untuk postingan ini.





CHAT GPT juga memberikan tips nih bagi yang menggunakan taksi atau malah bawa mobil sendiri:

Jika naik taxol, sebaiknya turun di depan (ex) Hotel Grand Inna Malioboro (sisi utara) yang sekarang menjadi Hotel Grand De Djokja. Atau bisa juga di depan Benteng Vredeburg (sisi selatan) jadi kita bisa langsung masuk ke jalur pedestrian utama.

Jika membawa kendaraan sendiri, Tempat Parkir Senopati (selatan) atau Abu Bakar Ali (utara) memiliki akses ke pedestrian, namun Parkir Senopati cenderung lebih dekat ke area Titik Nol yang lebih landai.

Waktu Terbaik: Sore hari (jam 16.00 ke atas) atau pagi hari sebelum jam 09.00 agar cuaca tidak terlalu terik dan suasana lebih santai. TAPI, katanya pak Martin sih... kalau mau lebih enak jalan ya sekitaran jam 7.00 yang mana kami pasti masih tidur. Paling katanya ketemu sama yang olahraga pagi saja dan pengunjung yang tengah mencari sarapan. 




Kawasan Malioboro saat ini sudah sangat ramah bagi pengguna kursi roda setelah revitalisasi besar-besaran menjadi kawasan pedestrian penuh. Trotoarnya kini sangat lebar, rata, dan dilengkapi dengan ramp (jalan miring) di setiap persimpangan jalan.

Menurut CHAT GPT, ini rekomendasi rute jalan-jalan santai yang nyaman di sekitar Malioboro:
Rute Santai Malioboro (Utara ke Selatan):

1. Titik Awal: Area Loko Coffee Shop / Stasiun Tugu (Pintu Timur)
Jadi area ini adalah gerbang utara Malioboro. Katanya kita bisa memulai pagi atau sore hari dengan kopi di Loko Coffee Shop yang memiliki area semi-outdoor luas dan rata, sehingga sangat mudah diakses kursi roda

Okay, sebelum lanjut ... kami juga sempat nongkrong dulu di Loko Coffee pas lagi di dalam stasiun. Agak bingung juga sih sebelah mananya yang langsung bisa keluar tanpa kehebohan ya? 

 

2. Menyusuri Jalur Pedestrian Jalan Malioboro
Seluruh jalur pedestrian di sisi barat dan timur kini sangat lebar (sekitar 7 meter) dan permukaannya . Tidak ada lagi pedagang kaki lima di trotoar, sehingga pergerakan kursi roda sangat leluasa. Plus terdapat banyak tempat duduk di sepanjang jalan jika ingin beristirahat.

 

3. Belanja & Kuliner: Teras Malioboro 1 & 2
Apakah ada teman-teman yang sudah ke sini? Dengar-dengar dua lokasi ini dirancang sebagai pusat kuliner dan suvenir baru. Teras Malioboro 1 (dekat Pasar Beringharjo) memiliki fasilitas lift dan ramp untuk mengakses lantai atas. Teras Malioboro 2 (sisi utara) juga berada di satu lantai yang rata dan luas.

 

4. Wisata Sejarah: Museum Benteng Vredeburg
Dari keterangan yang saya baca, pengelola museum menyediakan jalur ramp untuk masuk ke gedung-gedung diorama. Jika membutuhkan, museum juga menyediakan kursi roda yang bisa dipinjam oleh pengunjung. Daaaan, di dalamnya terdapat Indische Koffie. Wah, ini sih menarik ya buat yang hobi nongkrong. 

 

5. Titik Akhir: Titik Nol Kilometer
Area ini sangat luas, terbuka, dan sepenuhnya rata jadi aman buat pengguna kursi roda. Buat yang hobi foto, bisa banget selfie dengan latar belakang gedung-gedung bersejarah seperti Gedung Agung (Istana Kepresidenan), Bank Indonesia, dan Kantor Pos Besar.



 Nah, apakah teman-teman ada yang punya pengalaman membawa keluarga yang menggunakan kursi roda jalan-jalan di sini? Bagi-bagi informasi ya dan komentarnya apakah rute yang disarankan CHAT GPT itu memang bisa digunakan atau ada yang lebih oke lagi?

0 komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving nice and supportive comments.

Ria's Been Here

Ria Tumimomor’s Travel Map

Ria Tumimomor has been to: France, Germany, Indonesia, Italy, Netherlands, Singapore, South Korea, Switzerland.
Get your own travel map from Matador Network.