Blog berisi curhatan si lajang

Senin, 14 November 2022

TIPS MEMILIH TEMPAT DUDUK DI KA ARGO PARAHYANGAN EKSEKUTIF

Stasiun Kereta Gambir


Di tahun 2019, saya sendirian ke Bandung dengan KA Argo Parahyangan. Tahun 2022 ini, saya mengajak mama yang sudah berusia 84 tahun untuk ikut Bandung. Teman mengomentari kalau saya  nekat bener mengajak orangtua ke Bandung di akhir pekan. Mengingat Bandung sekarang sama ramainya seperti sebelum Covid. Akhirnya saya memutuskan untuk cuti hari Kamis hingga Jumat. Jadi, lumayan lah pas di hari-hari kerja dan pulang di hari Sabtu balik ke Jakarta. 

Yang jadi persoalan tentunya buat saya karena jarang banget traveling, apa ada lift ya di stasiun Gambir sama Stasiun Bandung? Saya iseng email ke CS KAI menanyakan hal ini. Jawaban dari mereka: bisa langsung meminta tolong pada petugas yang ada di tempat. Wah, jawabannya menggantung ya... Tapi, first thing first, mari pesan tiket perjalanan terlebih dahulu.

Seingat saya, kita bisa memilih tempat duduk yang diinginkan di dalam kereta. Tapi saat itu saya telah memesan tiket dengan rentang waktu yang lumayan jauh. Kali ini, tiket baru saya pesan kurang lebih seminggu sebelum tanggal keberangkatan. Sebenarnya bisa memilih mau duduk di mana, selama masih ada ketersediaan. Seperti pas saya pesan, kursi telah banyak terisi oleh penumpang lain. Jadi, terima pasrah saja. 

Tapi, saya mau tetap bikin catatan kecil nih, seandainya di lain waktu ada kesempatan pergi ke Bandung lagi. Catatan ini jadi rangkaian dari yang berikut:

Hotel Belviu

Hotel De Paviljoen Bandung


Stasiun Gambir

Yang perlu diperhatikan kalau mau membeli tiket kereta adalah:

Pergi sendiri

Kamu tipe yang maunya foto-foto pemandangan dari jendela kereta api atau justru lebih memilih tempat duduk yang tidak dekat jendela? 

Tempat duduk yang dekat dengan jendela adalah bagian A & D. 

Jika kamu lebih suka dekat jendela, maka tempat duduk dengan pemandangan yang oke:

Berangkat dari Jakarta menuju Bandung; pilih tempat duduk bagian D.

Berangkat dari Bandung menuju Jakarta; pilih tempat duduk bagian A.

Saya jelas lebih memilih duduk dekat jendela, karena lokasi electric plugs ada di dekat jendela.


Pergi dengan manula dan bawa kursi roda.

Di perjalanan sebelumnya, saya mencoba juga beli tiket untuk kelas ekonomi. Dan buat saya sih kurang nyaman. lutut mentok sama kursi yang di depan. Kalau duduk dekat jendela, alamat yang di sebelah harus berdiri dulu sebelum kita bisa keluar (mau ke restroom misalnya). 

Karena saya pergi sama ibu yang sudah sepuh, saya memilih kelas Eksekutif. Hanya beda sedikit dengan kelas ekonomi, tidak sampai Rp 50.000,- lah. Keuntungannya, jarak antara tempat duduk yang kita tempati dengan seat yang berada di depan kita itu lebih luas. Ya, gak luas-luas amat, tapi termasuk yang membuat nyaman lah. Mengingat durasi perjalanan yang memakan waktu kurang lebih sekitar 3 jam.  

Saya sempat ragu apakah membawa kursi roda itu masuk dalam kategori barang masuk bagasi? Ada sih peraturan mengenai bagasi di sini untuk jelasnya. Jadi, saya kudu memastikan kursi roda yang saya bawa bisa dilipat sepanjang perjalanan, agar tidak mengganggu penumpang lain. 

Untuk keberangkatan saya mendapatkan tiket: gerbong 1, seat 1A & 1B

Untuk kembali ke Jakarta dari Bandung, saya mendapatkan tiket: gerbong 1, seat 3C & 3D.

As you can see, not a best seat buat melihat-lihat pemandangan. Tapi, mari kita lewatkan saja bagian itu. 




GAMBIR - BANDUNG 

ETD: 06.40

Karena belum tahu sebenarnya lokasi lift di sebelah mana, saya memutuskan berangkat lebih pagi. Jam 4.30 saya sudah mencari-cari taksi dong lewat apps. Kami pun turun di area keberangkatan. Di area ini banyak banget tempat makan dan nongkrong antara lain Starbucks, Bakmi GM dan macem-macem deh.

Berikut lokasinya :



KAI ACCESS

Belajar dari pengalaman yang sebelumnya, saya pun install KAI ACCESS. Tiket yang sebelumnya sudah saya beli lewat aplikasi lain, bisa ditambahkan di aplikasi KAI ACCESS.  

Tiket yang aktif akan muncul di apps KAI ACCESS seperti ini: 



Pada hari keberangkatan saya cetak e-ticket. Walau kata-katanya dicetak, tapi maksudnya tidak perlu dicetak dalam bentuk fisik. Dalam apps, akan ada barcode untuk discan petugas nanti. Click E-Boarding Pass yang akan tersedia pada saat 2 jam sebelum keberangkatan. 



Penampakan tiketnya seperti ini. Nanti barcode akan discan petugas sebelum kita bisa masuk ke area tunggu. Jangan lupa siapkan KTP masing-masing ya (jika yang berangkat lebih dari 1 orang). 

Karena sekarang ini masih dalam situasi pandemik, pastikan juga kalian sudah mendapatkan vaksinasi booster. Tidak usah ribet cetak sertifikat vaksin, karena akan ketahuan saat petugas scan barcode tiket. 



Sambil menunggu tiket dan identitas diri dicek, saya sekalian bertanya, apakah ada lift? Ternyata ada, walau hanya 1 di area kedatangan. Tapi petugas langsung membantu mendorong kursi roda ibu saya hingga kami sampai di peron. 



Bapak petugas juga membantu cek ke rekan-rekannya, di area mana kami bisa menunggu agar tidak terlalu jauh dari gerbong keretanya. 


Satu-satunya lift di stasiun Gambir

Kebetulan juga, menunggunya tidak terlalu jauh dari lift ini; yang ternyata hanya ada lift ini saja. Saat pulang nanti, kami juga menggunakan lift ini. 



Untuk naik kereta, menemukan tempat duduk, semuanya siap membantu. Mulai dari petugas kebersihan, porter, petugas keamanan sampai kru kereta api juga langsung turun tangan. Dan kami lega banget karena di belakang tempat duduk ada area untuk meletakkan kursi roda. 

Kekurangannya, jendelanya gelap ya, jadi susah mau foto pemandangan (HALAH!). Kekurangan lain adalah kami terlalu jauh untuk ke restroom dalam gerbong yang sama. Namuuuun, kami dekat dengan restroom di gerbong belakang kami. Jadilah sebelum kereta melaju kami pun buru-buru  menggunakan restroom. 


TIBA DI BANDUNG



Sampai di Bandung pun, ada petugas yang membantu ibu saya turun dari kereta dan membantu mendorong kursi roda. Tapi di sini kami ada kesalahan komunikasi. Karena saya tidak menyangka dijemput sama teman, saya hanya mendengar sambil lalu perkataan petugas kalau kami akan keluar dari pintu Selatan. Padahal saya foto loh, pas mau keluar, dan kami ini sebenarnya keluar dari pintu utara.


Patokannya: MAXX COFFEE - PINTU UTARA Stasiun Bandung

Menuju pintu keluar dari gerbang utara ini melewati antara lain MAXX COFFEE.  Tapi karena sudah lega sampai di Bandung dengan selamat, saya tidak bertanya lebih lanjut. 


Travelator Stasiun Bandung

Dan saya senaaang banget, di stasiun Bandung ini ada travelator. Jadi memudahkan bagi penumpang yang menggunakan kursi roda. Seorang teman juga sudah menginformasikan hal ini sih dan setelah melihat sendiri rasanya wow, salut deh sama Stasiun KAI Bandung. !


Pintu Utara - bisa keluar dari sini, bisa masuk juga dari sini. 

Supaya jangan lupa di lain hari, saya sematkan juga deh di sini pintu utara Stasiun Bandung.







PULANG dari BANDUNG ke JAKARTA

Karena sudah yakin akan naik KA dari pintu Selatan, maka sekitar 1,5 jam sebelum waktu keberangkatan, saya dan mama pun menuju stasiun KAI Bandung. Jelas, sudah tidak perhatian lagi kalau nama jalannya pun berbeda.




Memasuki St. Bandung lewat Pintu Selatan


Saya baru sadar dong, kami masuk dari gerbang yang berbeda karena tipe-tipe penumpangnya lebih terlihat penduduk lokal daripada turis dadakan seperti saya. Dari barang bawaan terlihat lebih sedikit, seperti tas selempang atau ransel kecil. Sementara turis-turis lokal kayak saya banyak yang bawa koper. Lalu cara mereka lari-lari masuk ke peron, itu seperti kalau saya berusaha mengejar busway yang akan masuk ke terminal. Tapi sudah terlanjur, jadi on the spot saya langsung cetak e-boarding pass seperti waktu keberangkatan dan ikut mengantri bersama penumpang lain. 




Pas petugas scan tiket dan cek KTP, dia langsung memberi petunjuk, begitu lewat pemeriksaan langsung ke sebelah kanan. Tapi berbeda dengan saat kedatangan ketika banyak petugas yang jaga, kali ini tidak ada. Saya pun harus mendorong sendiri kursi roda mama hingga ke travelator. Makin senewen karena di belakang saya gedebak gedebug para penumpang yang berusaha agar tidak ketinggalan kereta. Dan mereka permisi untuk melewati saya, kebayang kan jalur travelator yang sudah penuh dengan kursi roda dan mereka berusaha agar bisa lewat? Rusuh lah pokoknya situasinya, mereka panik dan saya juga jadi senewen. Ya, memang kursi rodanya bisa dikunci posisinya, tapi bukan berarti gampang digeser ke kiri dan ke kanan. Karena posisi travelator ini kan sedang naik ke atas, bukan dalam keadaan rata yang aman damai sejahtera. 






Lalu ketika sudah hampir tiba di ujung travelator, saya melirik ke sebelah kanan. Ada cowok yang berdirinya mepet banget, sepertinya dia tengah bersiap untuk tancap gas menguber kereta. Saya langsung minta tolong untuk membantu mendorong kursi roda begitu tiba di ujung travelator. Begitu sampai, kami berdua mengerahkan tenaga mendorong kursi roda. Dan ketika saya menengok untuk mengucapkan terima kasih, cowok tersebut sudah kabur. Semoga dia tidak ketinggalan kereta gara-gara menolong saya dan mama ya...




Setelah kehebohan tersebut, saya langsung bahagia banget begitu melihat ada petugas. Saya memperlihatkan tiket dan ia pun mengambil alih mendorong kursi roda. Kami diantarkan sampai masuk ke dalam gerbong KA Argo Parahyangan. Dan kami masih punya waktu 45 menit untuk bersantai. 



Dari tempat duduk 3C & D. 



Sayangnya kali ini tempat duduk kami terletak jauh dari restroom, padahal terletak di gerbong yang sama. Saya pun terpaksa menitipkan kursi roda pada penumpang di kursi 1C. Kami sendiri mendapatkan tempat duduk di 3C & 3D. Untungnya, bapak di kursi 1C tidak keberatan kami menitipkan padanya. 

Jadi, jika membawa kursi roda, memang paling aman mendapatkan tempat duduk paling belakang atau paling depan. Yang saya hapal yang paling depan: no 1A & 1B.

TIPS saat sampai di stasiun Kereta:
Walau barang bawaan tidak banyak, sebaiknya sewa saja porter. Mereka akan dengan senang hati memberi informasi, di mana area yang banyak tempat makan, musholla, mini market sampai kursi pijat. Karena tempat makan dan tentu saja oleh-oleh, lebih banyak berada di area keberangkatan. Sekalian juga menanyakan, di mana sebaiknya memanggil taksi. Jangan memanggil taksi di area keberangkatan ya. Kebanyakan mereka berada di area lain, di mana para penumpang baru saja tiba. 

6 komentar:

  1. Soal naik kereta api pas sendiri memang pas banget deket jendela buat liat pemandangan, senderan, dan buat video perjalanan. Hehe, kelihatan banget kalau indie jadi selalu melakukan hal ini dalam kereta. Mantep banget KA argo Parahyangan, jadi pengin ke Bandung. Terima kasih informasinya!

    BalasHapus
  2. Wow, hebat elo bawa nyokap ke Bandung.

    BalasHapus
  3. Wah makasih tipsnya, Kak :)

    Aku suka window seat, noted buat nomor kursinya.

    BalasHapus

Thank you for reading and comments.
Comments will be screened first.

Ria's Been Here

Ria Tumimomor’s Travel Map

Ria Tumimomor has been to: France, Germany, Indonesia, Italy, Netherlands, Singapore, South Korea, Switzerland.
Get your own travel map from Matador Network.