Jurnal saya yang bingung kalau mau ngomong tapi gampang kalau nulis

Selasa, 07 Juli 2026

Ketika Etika Berbenturan Dengan Keamanan

 


Membaca dan melihat dari banyak konten media sosial, saya jadi belajar lebih banyak mengenai norma dan kebiasaan yang berbeda-beda di banyak negara. Antara lain negaranya adalah Jepang, yang jadi cita-cita lokasi tujuan idaman banget yang entah kapan kesampaian. Lah, jadi curcol.

Jadi, dari post di Instagram yang saya sertakan di sini, di Jepang, ada himbauan. untuk meletakkan tas di rak atas atau dipegang di samping, bukan di depan tubuh. Alasannya sederhana: agar tidak mengganggu penumpang lain yang duduk, menjaga ruang tetap lapang, dan mencerminkan budaya yang menekankan kenyamanan bersama. Saya asumsikan, di sana dengan tingkat keamanan yang tinggi dan minimnya kasus pencopetan, aturan ini terasa wajar dan mudah dijalankan.  



Namun, di Jakarta ceritanya berbeda. Karena saya kebanyakan membawa ransel; rasanya tidak bijak jika saya tetap membiarkannya bertengger di punggung. Saya lebih memilih meletakkannya di depan, demi faktor keamanan. Transportasi umum di sini padat, penuh dorongan, dan risiko pencopetan nyata adanya. Menaruh tas di rak atau membiarkannya tergantung di samping terasa berisiko. Dan pernah terjadi sama saya, yang pernah kecopetan saat mengapit tas dengan kedua betis saya. Jadi letaknya agak di bawah, sulit dilihat dengan mata. Dan akhirnya dompet saya melayang. Kalau tas kami letakkan di rak atas, yang bisa saja kami terdorong sehingga menjauh dari letak tas tersebut...lalu kami jadi lupa. Dan berujung tertinggal pas turun dari kendaraan umum. Terus diambil orang lain.   


Saya percaya, tidak ada cara yang benar banget atau salah secara mutlak. Jika saya berada di Jepang, tentu saya akan mengikuti aturan mereka. Tapi di Jakarta, saya memilih cara yang menurut saya paling aman. Etika memang lahir dari budaya, tetapi kebiasaan lahir dari realitas.  


Contoh Nyata di Jakarta

- TransJakarta: Bus penuh sesak di jam sibuk sering terasa seperti arena gladiator. Penumpang saling dorong, berebut ruang, dan ransel di belakang bisa jadi “senjata tak sengaja” yang mengenai wajah orang lain. Kalau ada yang protes, biasanya jawabannya simpel: “Maaf, bukan sengaja, saya lagi jalan." Sementara jika letaknya di depan, bisa menyenggol muka penumpang lain yang duduk. Dan hal ini bisa jadi sumber keributan.   

- Commuter Line: Pintu kereta di jam sibuk mirip gerbang uji kesabaran nasional. Tas jinjing bisa tersangkut, tas selempang bisa ditarik orang, dan ransel di belakang bisa jadi alasan orang lain mendengus kesal. Survival mode aktif sejak pintu terbuka.  





 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Naik Transportasi Umum di Jakarta

- Waspada barang bawaan: Jangan lengah, terutama di bus atau kereta yang padat.  

- Hindari barang berharga mencolok: Simpan ponsel, dompet, atau perhiasan di tempat yang sulit dijangkau.  

- Perhatikan posisi duduk/berdiri: Jangan menghalangi pintu keluar, dan beri ruang bagi penumpang lain.  

- Gunakan kartu atau aplikasi resmi: JakLingko, e-money, atau GoPay untuk mempermudah pembayaran dan mengurangi risiko kehilangan uang tunai.  

- Tetap tenang dalam keramaian: Dorongan dan desakan sering terjadi, jangan mudah tersulut emosi.  


Tips Menggunakan Tas di Transportasi Umum

Yah, sebenarnya saya bukan orang yang tepat untuk memberikan tips. Mengingat saya juga pernah kecopetan di kendaraan umum. Lebih dari sekali malah! Tapi setidaknya, panduan ini dibuat untuk sama-sama waspada jika berada di kendaraan umum. 

- Tas selempang:  

  - Letakkan di depan tubuh, dengan resleting menghadap ke dalam.  

  - Jangan biarkan menggantung di samping, karena mudah dijangkau pencopet. Saya pernah mengalaminya sendiri, dompet pun melayang karena hal ini.  


- Ransel:  

  - Saat berdiri di kereta/bus padat, peluk di dada untuk keamanan.  

  - Jika duduk, letakkan di pangkuan atau di lantai dengan tangan tetap memegang.  


- Tas jinjing:  

  - Jangan taruh di lantai tanpa pengawasan; karena kita bisa lengah dan sekali lagi, saya pernah mengalami kehilangan barang karena meletakkannya dekat lantai.  

  - Pegang erat di pangkuan atau di samping kaki, tetap dalam jangkauan mata.  


Pada akhirnya, baik aturan maupun insting sama‑sama berfungsi untuk menjaga kita tetap nyaman di ruang publik. Hormati aturan di tempat kita berkunjung, dan hormati insting kita di tempat kita tinggal. Karena di Jepang, sepertinya tas atau ransel adalah soal etika. Di Jakarta, tas, ransel, barang bawaaan  adalah soal bertahan hidup.  

0 komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving nice and supportive comments.

Ria's Been Here

Ria Tumimomor’s Travel Map

Ria Tumimomor has been to: France, Germany, Indonesia, Italy, Netherlands, Singapore, South Korea, Switzerland.
Get your own travel map from Matador Network.