Senin, 16 Januari 2017

#jalanjalanmedan Antara Pasar Dan Pajak - Part 6

Ketika akhirnya keluar rumah ke dokter, foto diambil saat naik becak motor di Medan
Ketika saya sudah di Medan selama beberapa hari, keponakan saya bertanya-tanya kok jarang sekali ada update via akun media sosial.

Nah, masalahnya...ada beberapa.. 

Penampakan becak motor


Pertama, sesampainya di Medan mama dan tante saya sakit jadi yang ada boro-boro kelayapan kemana-mana. Yang ada saya puyeng mengurusi mereka berdua, karena sempat panik juga. Bagaimana kalau sampai tiba waktunya kami harus pulang ke Jakarta dan masih belum membaik juga kondisinya? And you know what, jalan-jalan pertama yang saya lakukan bersama mama adalah ke dokter di sore hari dengan becak motor. 


Apotek di klinik Dr. Tan - Medan



Kedua, memangnya tidak bisa sekedar foto-foto para penjual makanan yang ada di jalan? Pastinya ada banyak tempat makan yang bisa didokumentasikan dong selama di sana. Iya, awalnya saya juga berpikir demikian. Hingga akhirnya pada hari ketiga kami di sana, saya berkesempatan ketemuan dengan seorang teman. Dengan senangnya saya memesan gojek dari rumah untuk ke mall. Heh? Di Medan ada gojek? Yaaaa, itulah dia hebatnya gojek... Saya dengan gembira, membawa kamera besar dan meletakkannya dalam ransel yang saya panggul di punggung. Ojek datang saya langsung cuss ketemuan di Thamrin Plaza. Dari sana teman saya mengajak makan mie yang sudah terkenal banget yaitu mie kangkung belacan Ahai di Pasar Ramai. Dulu saya sempat bingung sama istilah pasar dan pajak di Medan. Kalau orang mengatakan yuk ke pajak, itu maksudnya bukan mengajak ikutan Tax Amnesty bareng melainkan ke pasar. Sementara pasar sendiri artinya adalah jalan besar. Nah, di sini memang namanya  RAMAI. Ada juga yang namanya SUKA RAME. Biar sama-sama ramai tapi beda lokasi, tapi ini kok saya jadi kemana-mana ya... Lanjut
Anyway, pas lagi jalan di sana kami berdua mendengar cerita dari orang-orang yang tengah mengobrol tentang... BEGAL.

Penjual sate di pajak Rame ini malu-malu difoto bareng dagangannya
Dari poin kedua ini bisa saya kasih tips mengenai jalan-jalan yaitu dekatilah penduduk setempat dan cari informasi mengenai hal-hal yang biasa terjadi. Dan rupanya di kota Medan ini sering terjadi jambret atau rampas barang bawaan yang biasanya berujung dengan melukai si korban. Sudah kehilangan barang, masih harus dilukai pula. Terus saya langsung tercekat, membayangkan bahwa tadi saya ke sana dengan memanggul ransel di punggung dengan kamera yang udah ketinggalan jaman serta handphone yang cicilannya belum lunas. Hilang keduanya aja udah bisa bikin dunia kiamat apalagi kalau saya sampai terluka? Saya langsung bergidik membayangkan bagaimana kalau seandainya saya iseng membawa kamera untuk foto-foto tempat makan di jalan dan memancing begal menyerang saya. Untung saja saya tidak selera membawa kamera karena kepikiran mama sakit.

Kios Mie Kangkung Belacan Chef Ahai - Medan


Back to soal makan di pasar Ramai untuk mencoba mie kangkung belacan ini...buset tempatnya... Sudah ngumpet di dalam area pasar dan ya jangan mengharap kebersihan jadi unsur nomor satu. Saya pernah baca juga kalau yang masak bukan si chef Ahai langsung rasanya ya biasa saja. Dan memang rasa mie kangkung belacan ini ya biasa saja. Saya foto dengan kamera handphone mumpung ada sinar matahari siang jam 12-an. Setelah itu handphone langsung diumpetin (usap peluh ala animasi Jepang). 

Mie Kangkung Belacan Chef Ahai


Walau rasanya biasa saja buat saya, tapi senang juga sih sampai juga ke sana dan mencoba sendiri. Bagi teman-teman yang kebetulan pas berada di Medan, gampangnya cari saja dulu Thamrin Plaza dan di sebelah mall kecil ini bisa langsung ke pasar Ramai. Begitu di dalam ya mending langsung saja tanya di mana lokasi mie kangkung belacan Ahai. 

Informasi bagi yang bego menawar seperti saya, jangan coba-coba naik becak motor. Menawar dengan mereka lebih sulit daripada menawar sama tukang ojek di Jakarta. Tapi mungkin ini karena saya memang tidak punya nyali untuk menawar sih... hihihihi

7 komentar:

  1. duh.. kangen naek bentor. btw aku mau dong kangkung belacannya. pasti enak banget. *liur menetes*. 2 porsi ya bu .... hehehehe

    BalasHapus
  2. Waduh piknik kok malah sakit yaa mama ama tante nya, mungkin kebanyakan piknik hahaha
    Btw itu mie kangkung nya menggoda sekali dari foto nya

    BalasHapus
  3. Waktu tugas ke Medan awal-awal jg sempat bingung, kok Dinas yang ngurusin pajak malah Dinas Pasar bukan Dinas Pendapatan.. hehehe...

    BalasHapus
  4. Bahasa Medan emang kadang bikin orang luar bingung.
    Selain pajak dan pasar, ada juga kereta yang artinya sepeda motor dan motor yang artinya mobil. :D

    BalasHapus
  5. Ini aku skr lg di medan, dan blm puas banget kulineran di sini. Belum pernah tau nih mba mie kangkung chef ahai. Biasanya kalo tempatnya blusukan gini, aku liat situasi dulu. Jujurnya cuaca medan yg jauuuh lbh panas dr jakarta bikin aku srg sakit kepala :( . Jd kalo jalan biasanya yg ga terlalu blusukan hihihi

    BalasHapus
  6. Pajak itu artinya pasar
    Pasar itu artinya jalan
    Kereta artinya sepeda motor
    Motor artinya mobil

    Dan orang Medan gak kenal bentor atau betor. Orang luar malah yang kasih julukan itu. Di Medan adanya Becak Mesin Atau Becak Motor dan Becak Dayung ( becak yang dikayuh )

    Itulah Medan hihihi

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

My Blog On Your Phone

My Blog On Your Phone
Download RiaTheChocolicious di PlayStore

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Flag Counter

Flag Counter