Kalau beberapa tahun lalu ada yang mengatakan bahwa akan dengan sengaja turun di sebuah stasiun hanya untuk mencari stempel, mungkin saya akan tertawa. Soalnya, MANA SEMPETTT! Selama ini saya naik transportasi umum untuk sampai ke tujuan, bukan untuk mengumpulkan cap tinta di atas kertas. Namun ternyata hidup memang sering memperkenalkan hobi baru dengan cara yang tidak terduga.
Semuanya bermula ketika saya mengetahui adanya Stamp Railly Passport, buku koleksi stempel yang diterbitkan KAI untuk para penggemar kereta. Sayangnya, saat saya mulai tertarik, buku tersebut sudah habis terjual dan belum juga tersedia kembali. KAI memang menyediakan buku khusus itu sebagai media resmi untuk mengoleksi stempel dari berbagai stasiun, tetapi penumpang tetap diperbolehkan menggunakan buku catatan atau media lain untuk mengumpulkan stempel.
Karena tidak berhasil mendapatkan bukunya, saya memutuskan untuk mulai berburu stempelnya saja dulu.
DUA STEMPEL PERTAMA
Koleksi stempel pertama saya baru berumur seminggu dan didapatkan di Stasiun Manggarai dan Stasiun Bogor. Bagi sebagian orang, mungkin dua stempel bukanlah sesuatu yang istimewa. Tetapi bagi saya, dua stempel itu menjadi penanda awal sebuah hobi baru. Ada rasa puas yang sulit dijelaskan ketika berhasil menemukan lokasi stempel, membubuhkannya ke kertas, lalu menyadari bahwa koleksi itu tidak akan dimiliki oleh orang yang hanya lewat begitu saja tanpa memperhatikan sekeliling. Ya, sebenarnya sih langsung bertanya sama petugas di stasiun daripada puyeng mencari-cari letaknya ada di mana.
Program Stamp Railly sendiri terinspirasi dari budaya eki stamp di Jepang, yaitu tradisi mengoleksi stempel dari berbagai stasiun kereta. Setiap stasiun memiliki desain yang berbeda dan biasanya menggambarkan identitas, sejarah, atau karakter daerah setempat. Menurut keterangan KAI, desain stempel di setiap stasiun memang dibuat berbeda sesuai identitas masing-masing stasiun.
Jadi ini mungkin yang menjadikannya kegiatan yang menyenangkan, terutama buat saya yang jarang menjelajahi banyak tempat (kecuali tempat makan). Saya tidak sekedar mengumpulkan stempel tapi alasan untuk untuk menjelajahi lebih banyak tempat. Karena dari 10 stasiun yang menyediakan Stamp Railly, saya baru dapat dua.
Ternyata MRT Jakarta Juga Punya Stempel
Saat mulai mencari informasi lebih jauh, saya menemukan fakta menarik. Budaya berburu stempel ternyata tidak hanya ada di lingkungan KAI. MRT Jakarta juga memiliki stempel yang dapat dikoleksi penumpang. Informasi resmi menyebutkan stempel tersedia di Stasiun Blok A, Haji Nawi, dan Cipete Raya, dengan desain yang mengangkat unsur budaya Betawi serta karakter kawasan sekitar stasiun. Belakangan saya juga menemukan informasi mengenai stempel di kawasan Dukuh Atas, termasuk laporan dari pengguna MRT yang berhasil mendapatkannya. Hal ini sejalan dengan publikasi yang menyebut adanya beberapa stempel bertema integrasi transportasi di Stasiun MRT Dukuh Atas dan kawasan Transport Hub Dukuh Atas.
Mendadak daftar tempat yang ingin saya kunjungi bertambah lagi nih.
Koleksi Ketiga Datang dari Mal
Lalu muncullah kejutan yang tidak saya duga. Pada Selasa, 27 Oktober 2026, saya mendapatkan stempel di Central Park Mall. Tapi yang ini beda nih, stempel mereka ada 4 lapis. Kalau biasanya kita mendapatkan stempel ya satu saja dari satu tempat. Kalau di mall ini, dari empat stempel yang diletakkan dalam satu halaman itu bisa jadi gambar yang menarik. Seperti yang terlihat di foto. Karena saya baru dapat dua layer, jadi belum sama persis. Ohya, untuk mendapatkan stempel, kalian harus menunjukkan struk belanja di Central Park tanpa batasan minimum.
Saya semula mengira berburu stempel hanya berkaitan dengan kereta dan transportasi publik. Ternyata pusat perbelanjaan pun mulai menghadirkan program serupa. Central Park Mall diketahui memiliki program stempel yang dapat dikoleksi pengunjung melalui program passport mereka.
Dari situ cita-cita koleksi saya mulai berubah dari yang hanya ingin melengkapi 10 stempel KAI dan stasiun transportasi lainnya. Sekarang saya ingin mengumpulkan stempel dari sebanyak mungkin tempat yang saya kunjungi.
BERBURU STEMPEL MENJADI HOBBY BARU
Pencarian saya kemudian membawa saya ke dunia yang lebih menarik lagi: museum. Kementerian Kebudayaan melalui program Museum Passport memperkenalkan buku koleksi yang memungkinkan pengunjung mengumpulkan stempel dari berbagai museum di Indonesia. Setiap stempel menjadi tanda kunjungan sekaligus rekaman pengalaman menjelajahi sejarah dan budaya. Ada 7 museum di Jakarta yang menyediakan stempel.
Wah, ternyata ada segi positifnya juga buat saya yang kehabisan edisi buku untuk koleksi stamp dari KAI. Jadi, pas ke Gramedia saya beli saja buku sketsa yang bisa menampung stempel. Untungnya untuk stempel ukuran besar di mal Central Park pun muat di buku saya. Seru juga membayangkan buku saya yang perlahan terisi oleh stempel-stempel dari berbagai sudut Jakarta. Ada stempel dari stasiun kereta, stasiun MRT, museum bahkan juga dari mal. Mungkin suatu hari nanti ada juga stempel dari kota-kota lain yang saya kunjungi.
Yang menarik, saya tidak pernah merencanakan untuk menjadi kolektor stempel. Hobi ini menemukan saya yang awalnya hanya penasaran terhadap buku stempel KAI yang habis terjual. Lalu berkembang menjadi beli buku lalu mendapat dua stempel dari stasiun Manggarai dan stasiun Bogor. Setelah itu bertambah dengan stempel dari Central Park.
Kini saya mulai membawa buku tersebut kemanapun karena siapa tahu tempat yang dikunjungi menyediakan stempel. Mungkin bagi orang lain semua ini hanyalah cap tinta di atas kertas. Tetapi bagi saya, setiap stempel adalah bukti bahwa saya pernah berada di suatu tempat, pada suatu hari, dengan cerita tertentu yang menyertainya.
Dan barangkali itulah alasan saya ingin terus mengumpulkannya. Bukan karena jumlahnya. Melainkan karena setiap stempel menyimpan sebuah perjalanan.












0 komentar:
Posting Komentar
Thank you for reading and leaving nice and supportive comments.