Senin, 23 Januari 2017

#jalanjalanmedan Selat Panjang dan Jalan Semarang - part 8

Jalan Selat Panjang di Medan yang terkenal untuk wisata kuliner


Sebelum pulang ceritanya nih, saya ingin berkunjung ke area Selat Panjang alias jalan Tjong Yong Hian. Saya ngebet mau mencoba yang namanya Mie Tiong Sim. Pernah saya ulas sebelumnya di postingan ini. Ketika ke sana menjelang tahun baru, kami masih kenyang dan belum ingin makan. Jadi hanya sekedar lewat dan oh, yang ini nih tempatnya, untuk dikunjungi kembali sebelum pulang. Area Selat Panjang sudah terkenal dengan Chinese Food; jadi rasanya kalau tidak ke sana kok berasa ada yang kurang. Lah, kenapa gak kemarin-kemarin? Soalnya, tempat ini baru mulai buka menjelang malam dan kalau sudah sore saya agak malas keluar. Jadi ya salah sendiri deh ceritanya kalau sampai terlewat yang satu ini.


Anyway, tanggal 2 Januari 2017 saya memanggil taksi Blue Bird dan meminta pengemudi untuk mengantarkan kami ke sana. Di sana saya baru tahu kalau Selat Panjang itu menyambung dengan jalan Semarang. Kalau di Jakarta, seperti di area Pecenongan dan di area ini, banyak juga tempat makan yang memang kebanyakan mengandung babi. Sempat jalan pelan-pelan karena jalannya juga sempit dan saat itu tengah gerimis, bikin tambah malas buru-buru keluar dari taksi. Plus, saya bawa mama dan tante yang mana bisa cepat-cepat jalannyaaa...

Pemandangan yang bikin patah hati

Ketika sudah mendekat tempat mie Tiong Sim dan sudah sumringah karena happy, ealah ternyata...tempatnya TUTUP sodara sodari. Puyeng.


Letaknya tidak jauh dari lokasi bubur Pek Cam Kie dan tutup juga



Akhirnya saya minta pengemudi untuk berputar kembali agar bisa masuk dari jalan Selat Panjang yang di bagian awal tadi.


Sebenarnya ingin juga mampir ke tempat yang satu ini, tapi kami ragu juga, apa menu yang tersedia hanya bubur? Dan kalau mau turun tanya-tanya, saya yang ribet akhirnya pengemudi mengusulkan untuk ke Jalan Semarang yang letaknya ternyata tidak jauh dari area Selat Panjang.

Tempat pelarian karena tujuan utama gagal

Akhirnya kami nongkrong di tempat ini yang ada tulisan kedai kopi tapi tentu saja kami tidak pesan kopi. Hujan-hujan bikin laper ya maunya pesan makanan berat.


Mama dan tante saya pesan kwetiaw kuah dan untuk saya sendiri adalah bihun bebek. Kami juga memesan cim co, daging kepiting yang digoreng tepung. Berikut penampakannya:

Bihun bebek, empuk dagingnya


Rugi kalau gak pesen Badak, sementara mama pesan Lengkong dan tante saya maunya juice sirsak

Cimco yang menggiurkan tapi pas dimakan ya biasa aja rasanya


Kwetiaw Siram yang juga gak terlalu istimewa rasanya


Jadi di tempat kami nongkrong itu, bisa pesan makan dari mana saja di sekitar jalan Semarang. Para waitress dan waiter akan mendatangi meja pengunjung dan memberikan berbagai macam menu. Menu tanpa harga, jadi kalau gak gengsi mendingan ditanyakan dulu harganya berapa.



Dan pas bayar lumayan kaget juga saya, cim co mahal yeee... Tapi daging kepiting memang tidak pernah murah sih di mana-mana....


Kadang saya pikir, salah saya juga sih gak menyiapkan daftar panjang kalau-kalau restoran yang dituju gak buka atau malah pindah. Jadi ya beginilah, asal mampir dan makannya jadi gak puas. But anyway, area makan ini panjang banget dan sebenarnya memang enak jalan pelan-pelan, melihat dulu mana yang kira-kira enak. Tapi kalau tidak mencoba, bagaimana mau tahu?

Bagi yang tengah wisata kuliner di Medan, wajib kunjung dan makan di salah satu tempat makan di area ini ya :) Dan foto-foto lain bisa dilihat di sini.


18 komentar:

  1. itu kwetiau siramnya mahal juga ya?:D, dari penampakan sih menggiurkan sekali. enak gak sih Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. berhubung bukan saya yg makan, saya gak bisa komen. tp kata yg makan sih rasanya biasa aja.

      Hapus
  2. Duuh..kebayang kecewanya, deh! Mau makan di tempat tujuan..malah pada tutup semua. Akhirnya makan yang ada aja ya...
    Kayaknya saya juga akan melakukan hal yang sama, kalau tempat makan tujuan, tutup :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. abis udah sampai di sana masa langsung pulang :)

      Hapus
  3. Bihun bebeknya menggiurkan penampakannya. Pengen ikut nggigiit *eeh.. :D

    BalasHapus
  4. Mba Ria, aku mampir lagii hehehe.
    Minuman Badak itu apa ya? Masih penasaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. seperti coca cola mbak, tapi ini minuman soda buatan pabrik lokal. Udah lama juga ternyata.

      Hapus
  5. Duch kalo tutup gitu bikin kesel yaaaa
    Aku di bali punya langganan Nasi Pedas Bu Hanif, waktu hari pertama datang sempet makan. Hari ke 2 sampai ke 6 tutup karena mudik dan itu bikin gw sebel karena tiap sore aku datang ke warung nya ihik ihik

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahha, paling enggak masih sempet makan dek....

      Hapus
  6. Memang semarang banyak kawasan pecinan ya mb ri, yaampun nyesek abis uda dijabanin pake taksi malah sesampainya tutup
    Klo aku yang jdi mb ri langsung merasa rugi bandar ahahahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini bukan di Semarang dek, tapi jalan Semarang yg lokasinya di Medan... Bukan nyesek lagi pas liat restorannya tutup... tapi sakitnya smp di ulu hati :))))

      Hapus
  7. makanannya lumayan mahal - mahal juga ya harganya mbak

    BalasHapus
  8. Kecewanya gitu mbak, udah mah mahal, eh rasanya biasa aja :(

    Salam,
    Rasya

    BalasHapus
  9. itu soda kaya coca cola tapi cap badak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, karena minuman soda ini produksi lokal di sana dan merknya: BADAK

      Hapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Fictionholic Society

Fictionholic Society
CO-Founder of Kampung Fiksi

Search Box