Senin, 17 Oktober 2011

Jelajah Rasa dengan Reader Digest Indonesia

Sabtu tanggal 15 Oktober kemarin untuk pertama kalinya gue mengikuti acara yang diadakan majalah Reader Digest Indonesia (RDI). Sebenarnya sih, gue sudah sering mengikuti beberapa seminar yang mereka adakan. Tapi baru kali ini gue mengikuti acara seharian penuh bersama mereka.

Jadi awalnya gue membaca di mailing list, mereka bertanya apakah para pembaca tertarik ingin mengetahui tentang proses pembuatan makanan? Misalnya tentang sate atau membuat kopi? Setelah mendapat tanggapan, barulah mereka mengadakan event tersebut melalui milis dan Facebook. Sempat ragu-ragu juga awalnya untuk ikutan. Karena acaranya ke toko roti dan kue TAN EK TJOAN, lalu ke Sate Khas Senayan dan Giyanti Coffee. Gue baru tergerak ikut menjelang hari-hari terakhir penutupan pendaftaran karena pesertanya bakal dapat oleh-oleh dari Dapur Coklat. Gue dan coklat itu khan saudara sekandung, jelas gue gak mau melewatkan kesempatan ini. Mendaftarlah gue dengan membayar biaya Rp 100,00 dan mendapat tiket sebagai bukti tanda serta.



Pagi-pagi karena takut ketinggalan gue udah nongkrong di Gedung Femina sekitar jam 07.30 pagi. Ternyata yang early bird gak hanya gue, tapi ada seorang peserta lagi. Akhirnya kita kenalan deh dan ngobrol-ngobrol soal acara-acara seperti ini.


Seperti biasa, jadwal berangkat sih jam 8 tapi molor hingga nyaris mendekati jam 9 karena banyak peserta yang ngaret. Nah, lalu kita dapat deh pembagian kue-kue dari Dapur Coklat (slurrrp...) dan merchandise dari majalah RDI sendiri. Belum-belum aja para ibu-ibu ini (termasuk gue) sudah mulai mengkalkulasi. Kalau pergi ke Dapur Coklat sendiri dan membeli makanan ini pasti bakalan lebih dari 100ribu. Hahahaha, cape dheee...

Perjalanan pertama ke toko roti dan kue Tan Ek Tjoan. Baru aja masuk, sebagian peserta sudah langsung heboh membeli roti dan kue dan cemilan. Gak lama kemudian dengan dipandu Antono Purnomo dari RDI serta Kabag Produksi Pak Deden, kita memulai tour ke dalam pabrik. Kalau elo semua menebak pasti gue gak mendengarkan sama sekali; itu memang benar. GUe bukan tipe yang bisa langsung cespleng kalau diterangin untuk pertama kali. Tapi, alasan kerennya...maybe making bread is not my passion. Jadi, sementara peserta lain sibuk nanya ini dan itu gue malah asyik sendiri foto peralatan yang ada di dalam sana. Satu peralatan yang gue ingat adalah yang dapat membentuk adonan tepung menjadi kecil-kecil. Pas untuk diolah menjadi roti. Diadakan juga kontes mengolah adonan roti, diisi dengan keju atau coklat lalu dibentuk menjadi roti. Semakin banyak diisi (seperti yang biasanya sering diminta kita sebagai pelanggan...coklatnya yang banyak, kejunya kok dikiiiit), maka adonannya semakin susah dibentuk dan bakal berantakan. Oh, pantesss... Disana juga ada pembuatan kue seperti Black Forest; jadi gak terbatas sama roti saja. Usai acara, kita dapat oleh-oleh roti dari mereka. Lumayaaan...

Menjelang siang, kita menuju Sate Khas Senayan di Pakubuwono. Jika sebelumnya kita diberi gambaran bagaimana pembuatan roti tersebut, kali ini kita diberikan gambaran mengenai restoran tersebut. Sama seperti Toko Roti Tan Ek Tjoan yang sudah dikelola oleh generasi ketiga, demikian pula Sate Khas Senayan. Sembari mengunyah appetizer, kita mendengarkan penjelasan Ibu Lisa dari Sate Khas Senayan. Ia menerangkan bahwa mereka tidak mempunyai chef khusus untuk masakan-masakan mereka. Mereka mengandalkan bagian Research and Development jika hendak mengadakan menu-menu baru. Mereka juga mempunyai menu makanan yang hanya disajikan setahun sekali sesuai event seperti di hari Imlek, Lebaran dan Natal. Jadi kesannya khan spesial banget tuh menyantap makanan yang hanya ada setahun sekali. Usai mendengarkan penjelasan Ibu Lisa, baru deh kita disuguhi makan siang yang terdiri dari Soto Ayam Ambengan khas Surabaya, Tahu Telor khas Kudus, sate campur (sate daging dan kulit ayam, nyam!) serta Sate kambing dan sate Buntel khas Solo. Trus disuguhin es campur pula. Kenyang deh... Sekali lagi, seperti biasa...hitung-hitungan... Makan segini kalau sendiri mungkin bisa lebih dari 100rb... Hihihihi... teuteup...

Setelah makan, Ibu Lila Redaktur Pelaksana Boga Femina bercerita mengenai ragam sate yang ada di Indonesia. Ibu Lila dan Antono ini menceritakan juga kalau pekerjaan mereka itu adalah yang paling enak sedunia. hahahah, mesti nyari tempat makan enak dan dibayarin pula. Emang paling enak tuh kerjaan seperti itu... Tapi gue bisa membayangkan kalau gue yang bekerja seperti itu, sebaiknya gue membawa alat perekam... Otak gue gak cukup mampu untuk merekam semuanya dalam ingatan jangka panjang... Hahahahaha...

Udah kenyang...kita mengakhiri acara kuliner Jelajah Rasa di Coffee Giyanti. Disana sang pemilik sendiri; Pak Hendrik menerangkan mesin sangrai kopi ciptaannya sendiri. Sementara Pak Andreas dari asosiasi kopi Arabika menjelaskan membuat kopi lewat mesin espresso. Jadi punya mesin espresso belum tentu bisa membuat kopi yang enak, teman-teman. Bagi penikmat kopi, sebaiknya membeli kopi yang masih dalam bentuk biji kopi dan jangan yang dalam bentuk bubuk. Bungkusnya pun harus yang menggembung jangan yang rapat membungkus biji kopi tersebut. Pantesan, dulu gue suka heran kok ada dijual biji kopi segala di supermarket. Untunglah gue bukan penggila kopi. Karena justru kopi-kopi asli Indonesia seperti yang dijual di Giyanti Coffee inilah yang enak untuk dinikmati. Dan bukan di gerai-gerai kopi terkenal yang sering kita nikmati.

Sekelar acara, ada door prize dan hebatnya gue yang dapat... Hahahaha, padahal sepanjang acara gue selalu skip acara quiz, games, lomba bikin roti dan jadi barista. Akhirnya, dapat juga di akhir acara...



Nah, kembali kita jadi ibu-ibu... Sekarang gue mengerti banget kenapa sampai banyak orang yang jadi junkie untuk acara-acara yang diadakan majalah. Kita selalu bertanya, jika saya membayar sekian apa yang akan saya dapatkan? Bagi para pemburu merchandise atau gift yang kalau dibeli sendiri lumayan nguras kantong. Dengan ikutan acara seperti ini, selain mendapatkan teman baru. Walau gak nyimak tapi setidaknya gue dapat gamabaran bagaimana bikin roti (yang katanya mereka mulai kerja dari jam dua pagi di Tan Ek Tjoan! Wow!), ternyata sate di Indonesia ada buanyak banget. Serta...oh, membuat kopi yang enak pun harus mempunyai passion untuk itu. You love the thing, you love the process and you will love the result!

Setelah membaca ini, mari kita langganan semua milis majalah supaya ikutan semua acaranya... Hehehehhehehehe... Untuk yang ingin lihat foto-fotonya, klik aja disini ya :)

7 komentar:

  1. Hem, saya mau satenya mbak enak itu, apalagi kalau ditambah dengan cabe kecap yang pedas manis hihi pasti nambah lagi tuh

    BalasHapus
  2. pgn jg ih pny pekerjaan ky bu lila :D

    BalasHapus
  3. langsung ngeces mbak hihihi....

    BalasHapus
  4. Ke sini abis baca dari sate senayan hahaha...

    Well memang buat bisa jadi food editor (even yang gratisan di majalah model timeout) harus bisa nangkep segala macam informasi ttg makanan dan bisa ngerti gimana cara bikin reader tertarik. Gue tadinya udah mau apply tapi bgitu liat requirement nya, gak jadi.lol

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box