Blog berisi curhatan si lajang

Selasa, 19 November 2019

Nederlands Leren

Suasana di dalam Erasmus Huis

Sebagai lajang yang sering merasa kosong dan kesepian (halah, apa sih) maka untuk mengisi waktu, saya (sok) belajar bahasa Belanda online. Yes, saya sebenarnya maunya bahasa Spanyol karena dulu sempat belajar sedikit dan kamusnya kan sayang atuh, gak terpakai. Tapi karena tidak tersedia jadinya saya belajar bahasa Belanda dulu deh. Alasannya? Karena ingin tahu saja sih, tertarik juga karena mama dan almarhum papa bisa walau tentu saja tidak fasih-fasih amat. Seandainya kalian tertarik coba saja intip deh akun twitter Erlangga Greschinov yang mengadakan tutorial online dengan harga yang terjangkau pakai banget. 


Cara kursusnya bagaimana? Jadi peserta dikelompokkan dengan WAG, ya sodara sodari... WAG ini jadi sarana pengganti ruangan kelas, karena pesertanya dari berbagai lokasi. Materi pelajaran dibagikan lewat WAG dan jika ada yang ingin ditanyakan, bisa langsung via WAG. Nah, karena saya memang rada-rada masih lemot akhirnya malah jarang bertanya. Ohya, kursus online bukan berarti tidak ada tugas ya dari gurunya. Tugas harus dikumpulkan setiap kali ada materi baru, dan via online. Ada tugas tertulis dan pengucapan kalimat yang harus direkam dan dikumpulkan sebelum waktu yang ditentukan habis. 



Seru? Jelas. Efektif? Sebenarnya ya, kalau saya tidak kebanyakan sok sibuk sana sini dan baru kelabakan kalau sudah menjelang waktu mengumpulkan tugas. Walau belajar online, peserta tetap dihimbau untuk punya kamus dan sebaiknya lagi punya buku mengenai tata bahasanya. Sementara saya malas beli, ya ampun berapa tuh harga kamus hare gene?

Terus mendadak saya punya ide anita cemerlang yaitu kenapa tidak ke perpustakaan saja? Sudah berabad lamanya tidak pernah mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan nasional saja hanya jadi wacana melulu tapi selalu saja ujung-ujungnya saya memilih pergi ke mall atau kedai kopi. Jadilah suatu siang yang panas luhar binasa saya memutuskan untuk mendaftar jadi anggota di Erasmus Huis. Perpustakaan ini hanya buka dari jam 10 hingga 13.00 di hari Sabtu, dan saya hanya punya waktu kurang lebih satu jam. Ah, mau cari kamus saja kan? Masa setengah jam gak ketemu? Begitu pikir saya.



Sesampainya di sana, saya pun langsung ke petugas ibu Rina Tjokorde yang sepintas rada mengingatkan saya sama ibu Susi Pudjiastuti. Biaya untuk jadi anggota perpustakaan hanya Rp 30.000,- selama setahun dan bisa meminjam tiga buku sekaligus. Jika mau meminjam lima buku, iuran selama setahun menjadi Rp 60.000,- dan ada masa waktu peminjaman ya. Kalau sampai telat, alamat kena denda deh.



Mula-mula saya sok mencari sendiri kamusnya selama beberapa menit. Sambil melihat-lihat buku yang ada, saya juga mengamati pengunjung perpustakaan saat itu. Yang serius membaca dan mengerjakan sesuatu di gadget mereka banyak, tapi yang hanya foto-foto juga banyak. Karena memang perpustakaan ini keceh beud kalau difoto. Apalagi kalau daya khayal sedang tinggi lalu naik ke tangga berpura-pura menjadi Belle yang kutubuku di Beauty and the beast... Ya, ada juga adegan foto yang mungkin terinspirasi oleh film tersebut.




Lama mencari, akhirnya saya puyeng dan menyerah, memilih bertanya pada ibu Rina. Dan ternyata, kamus tidak boleh dibawa pulang man teman. Hanya boleh dibaca saat sedang berada dalam perpustakaan. Ya, sedih dong saya... Akhirnya saya kembali melihat-lihat buku apa yang kira-kira nanti bisa saya pinjam. Sepertinya sebagai pemula, saya bakal meminjam buku cerita anak-anak nih.  Ohya, tidak hanya buku berbahasa Belanda ya yang tersedia, tapi ada juga yang dalam bahasa Indonesia dan Inggris.



Just FYI tata tertib di dalam perpustakaan:
Jangan terlalu nyaman.
Walau disediakan sofa dan banyak tempat duduk, tetap selalu ingat perpustakaan adalah tempat umum dan bukan rumah sendiri. Dilarang untuk duduk ala-ala rebahan atau ngewarung alias melepas sepatu lalu angkat kaki. Jangan terlalu nyaman, harap diingat kita di sana untuk membaca dan atau meminjam buku.
Siap-siap saja ditegor loh sama si ibu Rina kalau sampai kepergok.


Interview hanya pada jam kerja.
Ibu Rina ini sering mendapat permintaan interview dan hanya dapat dilayani saat jam kerja mulai dari Senin hingga Jumat. Karena saat akhir pekan, perpustakaan tutup lebih awal dan biasanya pengunjung lebih banyak, ibu Rina jadi lebih sibuk.
Ketika di sana, ada beberapa anak remaja yang mendapat tugas dari sekolah untuk wawancara dengan si ibu. Dan mereka pun sukses ditolak, karena si ibu memang tidak sempat.




Area membaca sekaligus foto
Tidak dilarang sih foto-foto selfie, kapan lagi yeee kan? Asal tidak mengganggu pengunjung lain dan yang terutama sih tidak ganggu si ibu.
Area foto tidak hanya di dalam perpustakaan kok, tapi ada juga di area luar. Ada tempat makan juga yang bisa jadi tempat foto-foto. Asal tahan saja dengan udara panas saat ini.


Lokasi buku.
Saya belum sempat melihat koleksi bukunya apa saja yang ada di sana. Mengerti pembagian tempatnya saja juga belum. Jadi pastinya pengunjung seperti saya akan mengambil buku dari rak untuk melihat covernya, lalu isinya, syukur-syukur kalau mengerti. Kalau ternyata bukan itu buku yang dicari atau sekedar ambil buat foto-foto, selalu ingat untuk meletakkan kembali di rak yang sama. Okelah mungkin lupa urutannya ya, tapi letakkan saja di bagian pinggir kanan rak tersebut. Jadi memudahkan petugas untuk langsung merapikan dan mengembalikan bukunya.


5 komentar:

  1. (((Ide anita cemerlang))), bisa aja mb ri diksinya

    Perpusnya asyik, tp klo aku suka terlalu nyaman dan malah menganggap seperti rumah sendiri bisa2 dipelototin haha

    Wah keren maman alm papanya mb ri ternyata jago bhs blanda y

    BalasHapus
    Balasan
    1. main ke sini deh, asik buat ngadem #eh... Bercanda, banyak buku2 yg menarik, aku belum ngider bener2 aja pas ke sini.

      Hapus
  2. kok aku jd kepengin belajar bahasa lagi kalo ntr udh resign yaaa. udh lama sih pgn belajar bahasa lain selain inggris, tp krn aku tau itu hrs banyak latihan juga biar cepet lancar, jd ketunda mulu. kalo resign ntr, waktu jd lbh banyak, aku bisa lbh fokus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah komitmen dan jujur aku memang kurang untuk masalah yang satu ini. Jadi kalau lagi belajar, apalagi karena gak perlu hadir di kelas, kurang intense dan gak kapok2... Baru panik kalau ada pe-er apalagi skrg nih pas mau ujian

      Hapus
  3. Perpusnya asik. Kapan-kapan saya juga mo nulis ttg perpus kampus saya ah. 😊

    BalasHapus

FYI, all spam comments will be deleted.

Ria's Been Here

Ria Tumimomor’s Travel Map

Ria Tumimomor has been to: France, Germany, Indonesia, Italy, Netherlands, Singapore, South Korea, Switzerland.
Get your own travel map from Matador Network.

Flag Counter

Flag Counter