Jumat, 23 September 2016

Tricky The Girl On The Train

Karena filmnya akan segera tayang di layar lebar, saya mulai penasaran ingin membaca buku ini sebelum nonton. KALAU menonton. Ditulis oleh Paula Hawkins dan menjadi best seller di tahun 2015 hingga awal tahun 2016. 

Saya akan berusaha tidak memberikan bocoran ya dalam review ini. Kita mulai membahas tokoh-tokohnya yang wanita semua dan menyebalkan kelakuannya.

Rachel Watson
Watson sebenarnya adalah nama keluarga suami Rachel. Tepatnya MANTAN suami yang telah resmi menceraikan dirinya untuk menikah dengan wanita lain. 
Rachel ini tokoh yang bagi pembaca antara kasihan sekaligus ingin jitak kalau dia ada di sebelah kamu. Kenapa? Dia adalah tipe wanita yang GAGAL move on jadi sudah lewat dari tahap susah move on. Rachel mencintai suaminya dan karenanya ingin memberinya anak. Tapi ternyata pernikahan mereka tidak dikaruniai anak bertahun-tahun dan hal tersebut membuatnya frustrasi. Padahal suaminya sudah okay saja hidup berdua tanpa kehadiran anak tapi Rachel susah move on. Ia lari ke minuman keras, yang memang sudah jadi hobinya sejak dulu. Akibat hobinya, ia kehilangan suami dan pekerjaan hingga terpaksa menumpang pada temannya Cathy. Agar temannya tidak tahu ia sudah dipecat, setiap hari Rachel naik kereta menuju London.


Rute kereta tersebut selalu melewati area tempat tinggalnya dulu. Ia bisa melihat dari kejauhan sepasang suami istri yang tinggal tidak jauh dari (BEKAS) rumahnya. Untung ia hanya hobi melihat dari jauh tidak sampai jadi stalker lalu foto-foto. Di mata Rachel, suami istri yang bahagia, terlihat mapan, saling mencintai. Semua terlihat sempurna itu adalah gambaran kehidupannya dulu. Mereka membuatnya tetap berharap mantan suaminya akan kembali padanya. Begitu terobsesinya ia pada kesempurnaan mereka sehingga ia melibatkan diri ketika ada berita bahwa sang istri dari pasangan yang ia idolakan itu menghilang. 

Satu kebohongan membuat kebohongan lain terus menerus hingga akhirnya ketika ketahuan, Rachel harus menghadapi konsekuensinya. Ia melarikan diri ke minuman keras agar tidak harus menghadapi kenyataan kalau suaminya selingkuh. Ia lebih tidak terima lagi ketika khayalan yang sudah ia bangun ternyata tidak indah dalam kehidupan sesungguhnya. Saya lumayan salut juga sama simpanan uang Rachel yang bisa digunakan untuk dia hidup beberapa bulan tanpa pekerjaan. Mungkin dia bukan tipe langsung shopping begitu gajian
Suka banget cara Paula Hawkins membuat pembaca antara kasihan, simpati, bosan, jengkel dan balik simpati lagi. Saya saja sampai berharap agar Rachel dapat kehidupan yang lebih baik, padahal dia hanya tokoh fiksi!



Anna Watson
Anna, si wanita ketiga dalam pernikahan Rachel memang tipe perempuan yang menyebalkan. Di mata kita sebagai pembaca yang membayangkan, duh kalau saya jadi si Rachel. Suami meninggalkan kita demi wanita ini dan sialnya, Anna bisa memberikan anak. Sama saja dengan memberi konfirmasi bahwa sang pria tidak ada masalah. Tapi masalah dari Rachel sendiri. Mulai tidak bisa memberi anak sampai hobinya mabuk-mabukan (hobi kok mabuk? Padahal enakan makan ya? Okay, terus, lanjut).

Tapi Anna mulai terganggu dengan kenyataan bahwa Rachel terus menerus datang ke rumahnya yang sekarang ditempati oleh Anna dan (mantan) suami Rachel. Ia merasa gerah karena suaminya selalu menahan dirinya untuk tidak melaporkan Rachel ke polisi. Ditambah lagi ketika ia tahu rahasia kelam dari tetangganya yang sempat menjadi babysitter anaknya. Semuanya ini membuatnya menjadi kesal pada Rachel dan melaporkan wanita tersebut pada polisi. 

Tadinya saya biasa saja sama karakter Anna ini, sebelum mulai baca lebih lanjut. Tapi Paula Hawkins mengeluarkan apa yang tersimpan di lubuk hati paling dalam. Biasanya wanita ketiga dalam fiksi digambarkan tidak ingin jadi perusak rumah tangga orang lain. Tapi ya namanya cinta tidak bisa dihalangi sehingga perselingkuhan terus berlanjut. Tidak dengan tokoh Anna. yang menikmati bahwa ia berhasil merebut suami Rachel di tengah kesibukannya sebagai sales penjual rumah mewah. Ia menjadikan impian Rachel akan keluarga bahagia sebagai kehidupannya. Namun pada akhirnya, wanita ketiga yang menempati posisi istri ditambah punya anak pula, ia mendapati roda berubah. Jadi bisa merebut suami orang itu jangan happy dulu, kurang lebih begitu kali ya maksud Paula Hawkins.



Megan Hipwell
Megan adalah wanita yang selalu dilihat Rachel dari kereta menuju London. Mungkin dia adalah bukti nyata dari kata-kata: Jangan Selalu Terpesona Pada Rumput Tetangga. Megan bukanlah wanita yang sempurna seperti imajinasi Rachel. Megan juga tipe wanita yang labil, dengan masa lalu yang kelam. Yang membuat tetangganya Anna merasa menyesal sempat menjadikan dirinya babysitter. Hubungannya dengan suaminya tidak seharmonis yang dibayangkan Rachel. Ia bahkan harus berkonsultasi dengan psikiater yang akhirnya menjadi selingkuhannya walau hanya beberapa saat. Megan menikmati semua perselingkuhannya dengan menyadari bahwa ia yang memegang kendali. Tapi kendali tidak selalu ada pada dirinya dan akhirnya ia harus membayar mahal semuanya.

Kalau Rachel tipe yang jelas hobi menghancurkan diri sendiri, Anna tipe yang senang merusak hidup orang lain maka Megan tipe wanita gak jelas maunya apa. Ia merasa tidak bahagia, tidak puas dengan kehidupan yang ia miliki. Kalau sudah seperti itu ia selalu melihat ke belakang, ke masa muda yang kelam. Kehilangan saudara yang ia sayang dalam usia relatif muda. Dan mimpi-mimpi indah yang tidak tercapai yang membuatnya semakin ingin meraihnya. Namun ia juga menikmati menjadi orang yang memegang kendali, pada saat ia merasa tidak berdaya dengan kehidupannya.


Tiga pemeran utama wanitanya tidak ada yang beres ya. Tapi saya suka cerita yang model begini karena terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata. Bahwa:
Kita suka sirik sama kehidupan orang lain yang terlihat sempurna tidak ada masalah. Padahal karena orang-orang yang kita lihat itu hanya sepintas. Dan bisa jadi mereka pandai menyembunyikan hal yang sebenarnya.
GAGAL MOVE ON. Putus sama pacar saja bisa lama untuk move on apalagi dengan suami? Jadi antara paham tapi gemas dengan kelakuan Rachel. Apalagi kalau dia sudah tenggelam dengan dunia fantasinya dan minumannya. Sudah tahu minuman merusak hidupnya tapi ia terus bergantung pada minuman untuk lari dari kenyataan.
Ada hal yang belum selesai di masa lalu dan terus menganggu kehidupan sekarang. Dipikiriiiin terus tapi tidak tahu penyelesaiannya bagaimana. Akhirnya penyelesaian yang diambil malah berakibat fatal dan menimbulkan masalah baru.
Tekanan sosial, kamu harus kawin, kamu harus bahagia, kamu baru bahagia kalau punya anak, kamu baru bahagia kalau tetanggamu sirik (eh, apa sih?) dan seterusnya.

Saya bukan tipe yang suka cerita romantis jadi buat saya cerita fiksi ini keren! Jadi tidak sabar ingin menonton filmnya nanti.

Saya sertakan video interview pengarang dan pemeran Rachel Watson yaitu si cantik Emily Blunt.


3 komentar:

  1. suka judul ini, nunggu filmnya...baca bukunya sudah sedikit-sedikit haha

    BalasHapus
  2. Karakter ceweknya aku suka yaa. Jd pengen nntn filmnya

    BalasHapus
  3. Ooo belum tayang filmnya ya mbak?
    Aku bbrp kali baca tmn post ttg novel ini tp blm baca aku :(
    Jd penasaran jg...

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box