Jumat, 09 Februari 2018

Pantjoran Tea House - A Review

Welcome to Pantjoran Tea House

Beberapa waktu lalu saya dan seorang teman hang out di area Glodok dan akhirnya mampir di Pantjoran Tea House. Jika biasanya saya nongkrong ketjeh di kedai kopi (tapi pesennya susu coklat panas) maka kali ini mau mencoba minum teh sambil ngobrol. Teh, selalu terkesan sepele dalam kehidupan sehari-hari. Sering gak kita nyeletuk, ih teh aja kok bayar sih? Atau dalam menjamu tamu di rumah, kita akan berbasa basi mengatakan maaf nih hanya ada teh. Padahal teh adalah minuman yang tidak kalah gengsinya dengan kopi dan susu yang marak ada di mana-mana. 




Teman saya sudah pernah ke sini dan untuk urusan yang namanya teh, dia lebih talkative dari waitress di sana. Bukan berarti pramusaji tidak mengerti mengenai teh ya. Tapi teman saya saat itu lebih bersemangat menganjurkan untuk mencoba teh yang mana saja. She is like that when she's passionate about things that she like. So, dari beberapa pilihan menu teh kami mempersempit untuk mencoba teh China. Saya tertarik untuk mencoba antara puerh dan tie guan yin. 




Menurut sang teman yang sudah mencoba langsung teh puerh ketika di China, teh tersebut lebih pekat dari teh yang biasa. Akhirnya pilihan kami jatuh ke teh tie guan yin yang merupakan salah satu jenis Teh Oolong. Menurut salah satu legenda, saat pemerintahan Kaisar Qian Long, Dewi Guan Yin memberikan pohon teh ini sebagai hadiah untuk seorang petani miskin yang setiap harinya berdoa dan membakar dupa di kuil Guan Yin di kota Anxi, Itu adalah tempat teh tersebut berasal dan asal usul namanya. 


Tie Guan Yin at Pantjoran Tea House


Ketika menikmati teh, saya sempat diomelin nih sama si teman. Karena faktor kebiasaan saya mencelupkan kue ke dalam teh. Jika kalian ingin menikmati teh maka hal ini is a big NO. Serbuk biskuit atau kue kering atau makanan apapun yang dicelupkan ke dalam teh akan tersisa di sana. Otomatis akan berpengaruh pada rasa teh tersebut, jadi hilang deh cita rasa aslinya. Jadi bukannya gak boleh ya teman-teman, tapi mungkin lihat-lihat dulu tempatnya... Mungkin hampir mirip dengan kebiasaan lama saya yang gak bisa makan kalau tidak ada sambal. Eh, jadi out of topic. Okay, lanjut. 




Kami pesan satu poci tie guan yin dan meminta agar disediakan wadah minuman untuk dua orang. Teh ada dalam teko kecil, masih berupa daun teh yang diseduh dengan air panas. Bisa refill air panas hingga lima kali dan pada saat yang kelima itu warna dan rasa teh sudah berubah. Teh agak pahit tapi buat saya masih bisa ditolerir lah, kopi masih lebih pahit deh. Dan menurut teman saya, tie guan yin ini masih lebih ringan dibandingkan dengan puerh. Seharusnya ada aroma semerbak yang tercium but blame it on my flu jadi saya gak mengendus bau harum khas teh ini (halah, kalau makanan aja biar kesumbat hidungnya masih aja bisa terdeteksi).



Ohya, Pantjoran Tea House tidak hanya menyediakan teh dari Cina tapi juga teh dari negara kita sendiri dan ada minuman lain. Saya juga pesan es coklat (iseng banget ya) saat di sana. Kami tidak pesan makanan karena baru saja makan siang yang full banget. Sedikit cerita mengenai gedung Pantjoran Tea House yang ternyata sudah ada sejak tahun 1635. 



Tapi dulunya adalah apotek Chung Hwa dan di tahun 2015 bangunan ini direvitalisasi oleh arsitek Ahmad Djuhara. Sekarang menjadi tempat nongkrong cantik terutama bagi photo hunter dan para instagramers. So, tunggu apa lagi teman-teman? Teh juga baik loh untuk kesehatan dan siapa tahu kalian bisa membeli salah satu produk yang ada di sana untuk dibawa pulang dan dinikmati di rumah. Selamat menikmati! 


1 komentar:

  1. Tempatnya kaya bangunan tradisional yaa. Enak buat ngadem sambil menikmati teh :)

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

My Blog On Your Phone

My Blog On Your Phone
Download RiaTheChocolicious di PlayStore

Flag Counter

Flag Counter