Rabu, 26 Juli 2017

#jalanjalanBaBel part 17 Bangka Hari Terakhir

Lintas Sejarah Penambangan Timah di Museum Bangka 

Hari ini adalah terakhir kalinya kami berada di Bangka dan karena jam keberangkatan masih nanti sore, kami pun menjelajah beberapa tempat. 

Yang pertama kami kunjungi adalah Museum Timah di Pangkal Pinang Bangka. Sebelum dijadikan museum, bangunan ini dijadikan tempat tinggal para karyawan Bangka Tin Winning (BTW). Pernah pula digunakan sebagai tempat diadakannya Perjanjian Roem-Royen, perjanjian antara Indonesia dan Belanda tanggal 7 Mei 1949. Delegasi Indonesia diwakili oleh Mr. Moh. Roem dan dari Belanda  diwakili oleh H.J. Van Royen. Karenanya nama perjanjian tersebut dinamakan berdasarkan nama mereka dan hasil dari perjanjian masih tersimpan dengan rapi di museum ini sebagai bukti sejarah Indonesia.



Museum Timah Indonesia

Museum Timah yang berdiri pada tahun 1958 awalnya hanya mencatat sejarah pertimahan Bangka-Belitung oleh karyawan BTW agar masyarakat luas bisa mengenal. Namun saat resmi dibuka untuk umum pada tanggal 2 Agustus 1997 oleh PT. Timah Tbk, koleksi di museum ini semakin dilengkapi. Tersimpan sejarah proses penambangan timah dari alam hingga pengolahan secara tradisional maupun modern, baik berupa dokumen maupun foto-foto yang menjadi koleksi museum ini.  Pengunjung bisa melihat bagaimana proses penambangan dari dulu hingga sekarang. Plus, disertai penjelasan jenis-jenis timah. Ada juga tempat untuk membeli souvenir yang terbuat dari timah.

Jembatan Batu Rusa Bangka

Kami juga berkunjung ke Jembatan Baturusa atau Jembatan Emas yang merupakan singkatan dari nama mantan gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Eko Maulana Ali Suroso. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 784 meter. Jembatan ini dibangun dengan konstruksi cable stay dan sistem bascule (jungkit) pada bentang tengahnya. Sistem bascule digunakan untuk mendukung lalu lintas kapal di Sungai Batu Rusa menuju pelabuhan Pangkalan Balam. Jembatan tersebut membentang menghubungkan Kelurahan Ketapang, Pangkalpinang menuju ke Desa Air Anyer, Merawang. Diharapkan agar dapat meningkatkan aksesibilitas dua daerah itu.

Saking kerennya jembatan ini (asal tahan berpanas-panas kalau siang) baik siang maupun malam, banyak wisatawan yang datang untuk sekedar foto-foto.

Pantai Pasir Padi 

Untuk makan siang, kami dibawa ke restoran Aroma Laut yang terletak di pantai Pasir Padi. Karena sudah kenyang, dan panasnya polll... tidak ada satupun teman saya yang mau kena panas matahari. Segi positif sekaligus negatif tempat ini adalah sepi dari pedagang. Jadi sekedar iseng mau nongkrong melihat pantai tuh yang rada usaha. Ada sih satu dua kios yang menjual suvenir baju-baju pantai. Tapi lebih mahal karena mereka harus mendatangkan dari Jawa Barat.



Bangka Botanical Garden

Berikutnya kami berkunjung ke BBG alias Bangka Botanical Garden. Sekali lagi, sayangnya karena keterbatasan waktu lokasi yang dikunjungi hanya sampai di area peternakan sapi dan deretan pohon pinus. Yang menurut tour guide kami, berasa seperti shooting film Korea di pulau Nami. Hiburan di sana adalah lebih adem dan minum yoghurt segar. Mungkin kalau ada waktu lebih, kami bisa menjelajah lebih banyak tempat. Tapi setelah ini kami akan segera mengakhiri kunjungan dengan menuju ke Kelenteng Dewi Laut.


Klenteng Dewi Laut

Kelenteng Dewi Laut ini tidak jauh dari kota Pangkal Pinang dan letaknya menghadap ke laut. Kelenteng ini dikelilingi oleh patung-patung shio yang ada dalam penanggalan China. Kelenteng ini  ditujukan bagi pemeluk agama Kong Hu Cu. Di sekitar area kelenteng tengah dibangun tempat-tempat ibadah agama lain yang ada di Indonesia. Ohya, harap teman-teman berhati-hati jika berkunjung ke tempat sepi. Karena saya sempat kaget ketika masuk ke kamar kecil dan berjumpa dengan ular. Jangan tanya jenis ularnya, entah berbisa atau tidak.


Bandara Depati Amir Bangka


Sayang kunjungan ke Bangka singkat banget karena kami pun bersiap untuk kembali ke Jakarta. Bandara Depati Amir di Bangka ini keren, mirip-mirip dengan di Kuala Namu Sumatera Utara dan Terminal 3 Soekarno-Hatta. Banyak tempat makan dan outlet untuk membeli suvenir jika merasa masih kurang belanjaannya. Well, anyway... sampai jumpa lagi Bangka... Semoga bisa kembali lagi suatu saat nanti dan menjelajah lebih banyak lagi.


Susunan trip perjalanan  bisa dilihat di sini :

Bangka Hari Pertama
Pantai Batu Dinding
Kuliner Bangka hari kedua
Kuliner Bangka hari pertama
Hotel Novotel Bangka
Hari terakhir di Belitung
Kuliner di Belitung
Ahok Village
Laskar Pelangi dan Suvenir Belitung
Pulau-pulau Belitung day 2
Temple of Kwan-Im Goddess
Jalan-jalan BaBel day 1
BW Suite Belitung
Batik Cap Bangka


Informasi di kutip antara lain dari :


2 komentar:

  1. lamaaa ya mba jalan-jalannya, jadi puaaas banget! Aku belum sempet nih mampir babel..semoga bisa sampai ke sana segeraaa

    BalasHapus
  2. Entah kenapa saya kalo berkunjung ke museum semacam ini ( klo di Medan ada Museum Perkebunan Indonesia ) khayalan saya langsung melayang ke kejayaan masa lalu, Mb.

    Membayangkan gimana dulu hiruk pikuk pekerja lalu lalang, gedung-gedung yang dibangun dari industri itu. Begitu melihat keadaan sekarang yang cuman bisa dilihat di museum,kok gak kayak dulu lagi ya keadaannya. Suka sedih malah jadinya

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Fictionholic Society

Fictionholic Society
CO-Founder of Kampung Fiksi

Search Box