Senin, 31 Oktober 2016

Bridget Jones's Baby

Gile, filmnya vulgar banget... begitu komentar mama saya setelah nonton bareng film ini...

Sebelumnya, saya merasa perlu menjelaskan pada beliau bahwa yeah, film ini diangkat dari novel yang bisa dibilang kategori chic lit dan yang pertama yang sukses besar. Film ini juga yang mendorong saya mulai membuat blog, berharap dari cerita konyol keseharian bisa suatu hari dibukukan. Kenyataannya sih, tentu saja gatot but anyway, saya tetap penggemar karakter fiksi Bridget Jones karangan penulis Helen Fielding. Kenapa cerita Bridget Jones's Diary berkesan banget?

Yup, karena film ini nongol disaat saya juga tengah menjelang usia 30 tahun, single alias gak punya pacar dan bingung sebenarnya ada karir apa enggak sih? Kalau sampai tidak menikah karena karir bagus setidaknya orang bisa bilang, aish dia terlalu ambisius. Lah, kerja juga gak jadi apa-apa terus gak punya pacar juga apa gak ngenes? Dan kalau dipikir-pikir, kok namanya pas ya... JONES... JOMLO NGENES... Belum lagi dikelilingi oleh teman-teman yang sudah menikah dan punya anak yang sepertinya langsung tahu apa yang terbaik bagi orang lain yang melajang. SMUG MARRIED COUPLE, istilahnya si Bridget. Yang saya suka bagian ketika ia diam-diam menggerutu kenapa sih para pasangan yang sudah married suka banget nanya,"Sooo, how's your love life?" sementara ya elo kan udah tau dia jones? Bayangkan kalau dia sampai bertanya,"Kalian sendiri apa kabar? Masih having sex?" tapi tentu saja dia tidak segila itu. Dan karena tokoh Bridget ini memang ya rada-rada blo'on (bukan blo'on lagi, tapi benar-benar berantakan), sepanjang film ia sering ketemu apes karena terlalu ceplas ceplos tanpa berpikir panjang. Cuman ya namanya juga chic-lit, di akhir film ia mendapatkan pasangan untuk dirinya yaitu Mark Darcy.




Film kedua seingat saya masih berkisah tentang hubungan Bridget dan Mark yang tentu saja banyak masalah. Mark pintar, serius, pengacara, kerjaannya banyak. Sementara Bridget...ya, gak usah dibilang yah geblegnya seperti apa. Tapi toh, di akhir film kedua mereka berhasil mengatasi halangan dalam hubungan mereka.

Makanya saya rada bengong di film ketiga kok, dimulai dengan Bridget (Renee Zellweger) mendengarkan lagu yang khas buat ngeledek JONES di seluruh dunia: ALL BY MYSELF. Wah, jangan dengerin lagu ini kalau baru putus, berantem sama temen atau keluarga, terus sendirian. Bisa terjun bebas bunuh diri saking desperate-nya tuh lagu. Rupa-rupanya Bridget di usia 43 malah sudah putus dengan Mark Darcy (Colin Firth) dan kembali melajang. Untungnya ia punya teman-teman lajang yang berusia 30 tahunan yang siap menghiburnya; berhubung teman-teman gilanya dulu telah menikah dan punya anak. Ketika pergi menonton konser musik, Bridget melakukan one night stand dengan seorang pria yang belakangan ia ketahui bernama Jack Qwant (Patrick Dempsey). Beberapa hari kemudian ia bertemu Mark Darcy yang ternyata tengah dalam proses perceraian dengan istrinya dan CLBK, mereka melakukan hubungan intim. Tapi Bridget yang khawatir kalau Mark tetap lebih gila dengan kerjaannya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan mereka.

Lalu tahu-tahu ia hamil dan bingung...siapa ayah bayi-nya? Setelah melalui serangkaian kebohongan dan kekonyolan, terpaksa ia mengatakan yang sebenarnya pada kedua pria tersebut.

Film ini buat saya lumayan kocak dan memang khas Bridget banget. Soal candaan vulgar, yah...namanya juga kebudayaan mereka dan kita berbeda. Bridget, layaknya wanita yang cemas dia ini mau jadi apa nantinya... melontarkan lelucon-lelucon yang sebenarnya kalau kita jeli, adalah tentang kekhwatiran dirinya. Mau sendirian terus? Mau punya anak atau tidak? Memang dari siapa anaknya? Dengan umurnya yang sekarang apa tidak terlalu telat? 

Uniknya lagi, tokoh Jack Qwant diceritakan adalah seorang milioner yang kaya dari hasil penemuannya tentang algoritma cinta. Iya, saya juga heran kok Bridget dengan segala kecerobohannya ya dapat aja cowok-cowok keren dan kaya pulak... Out of focus... Intinya, dari perhitungan itu Mark tidak compatible dengan Bridget. Dan kalau diingat, kelakuan mereka memang bertolak belakang banget. Sementara Jack dan Bridget cocok banget plus Jack memang tipe idaman. Ia selalu berusaha membuat Bridget nyaman, tertawa dan siap menemaninya kapan saja ia membutuhkan. Tapi seperti yang dikatakan Mark dan yang dirasakan Bridget pada akhirnya, cinta tidak bisa dihitung. Tidak bisa diprediksi. Cinta bisa datang pada siapa saja walau kemungkinan untuk itu sepertinya kecil banget. 

So untuk saya, film ini menghibur banget dan memang film ini tidak untuk semua orang... Ada momen yang mengingatkan saya bahwa nyaris semua cewek kena sindrom Cinderella. Butuh pria untuk menolongnya (dalam film ini memakaikan sepatu, mendapatkan sepatu yang hilang... mengingatkan kalian akan dongeng yang beken itu kan?) dan membuatnya happy. Seperti yang dinasihatkan oleh dokter kandungannya (diperankan dengan kocak oleh Emma Thompson) bahwa Bridget tidak membutuhkan mereka pada akhirnya. Mungkin sih maksudnya, yang membuatnya happy ya mesti dari diri sendiri juga. Biar ada dua cowok baik hati dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka ada di sampingnya, semua tetap kembali pada diri Bridget sendiri. 

Sumber foto : Internet


Nonton film ini dan melihat Colin Firth, waduh dia kelihatan mature banget ya (kalau gak mau bilang dia sudah kelihatan tua). Yah, saya juga penggermar karakter Mark Darcy yang sebenarnya cintanya besar dan tulus, tapi susah mengungkapkan dengan kata-kata. Sementara Bridget adalah tipe yang ceplas ceplos, apa saja yang terlintas di otak akan dikatakan. Mengingat film pertama nongol di tahun 2001, saya mulai maklum kenapa Renee Zellweger sampai harus oplas. Film terakhir Bridget Jones sudah nongol di tahun 2004, dan yah... jelas dia tidak seimut dulu. We all grow up, growing old, and it is fun growing old with Bridget Jones all these times :) 

Kayaknya saya perlu baca dan nonton yang pertama-tama lagi nih...


8 komentar:

  1. Saya suka adegan nonton bareng nyokapnya sih. ikatan cintanya dapet banget :)

    BalasHapus
  2. Aku suka nih film yang drama komedi dengan ending yang ga drama queen tapi ga ngene. Oke, masukin wish list nonton deh. Mudah-mudahan ga kepentok hujan yang betah banget turun berlama-lama. Paling sebel emang kalau udah ditanya "how is your love life?" Errrr... #lelepintanduk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Euh ada yang kurang dikit, ngenes maksudnya. Bukan ngene

      Hapus
  3. Renee Zellweger ini cocok banget ya jadi tokoh Bridget. Cengirannya itu. Dulu nonton yang pertama kedua belum terlalu ngerti, mgkn karena masih terlalu imyut kali yaa.
    Sukaa banget dengan ulasan dan gaya nulisnya mb Ria...ceria dan lompat-lompatannya enak dibaca.

    BalasHapus
  4. Aku juga nonton film yang sebelumnya... suka sama dialeknya Bridget hihihi baru tau juga dr film ini kalo ibuk2 sana lebih senang dipanggil mother daripada mom...

    BalasHapus
  5. aku mau nonton ulang film2 sebelumnya dulu sblm nonton yg baru ini :D.. udh lupa :D..

    BalasHapus
  6. gue belon nonton (kyaaaaaa...salahkan tiket nonton nyc yang gila $18 hahaha) :P

    anyway, I can totally relate to Bridget when I was in high school. you know, me the nerdy nerd, dorky, strange, weird girl yang ga suka girly2an (except the concept of fashion) and I was like 'heck, I think I'm gonna be alone till forever'.. cukup disappointed juga lah mirip kasus nya si Briget di film yang kedua pas gue mulai dating and stuff akhirnya bubar jalan (lah jadi curhat disini hahaha) etc and so on and so forth.

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Fictionholic Society

Fictionholic Society
CO-Founder of Kampung Fiksi

Search Box