Selasa, 16 Februari 2016

Pamer Dan Promosi



Apa yang terlintas pada benak kita jika baru pertama kali bertemu dengan seseorang yang lebih banyak menceritakan soal kehebatan dirinya? Saya tidak bisa menghindari pemikiran kalau orang ini senang pamer dan cenderung sok. 

Saya bukan anti pamer karena dengan rajin posting segala sesuatu kegiatan di media sosial, diakui ada beberapa memang bertujuan untuk pamer. Misalnya saya dapat tiket makan malam bareng Daniel Craig (yaela, ngarep dot com banget) pasti bakal saya upload foto dengan keterangan lengkap. Karena untuk yang satu ini saya memang tujuannya membuat orang lain sirik dan kagum dong sama keberuntungan saya. Karena niatannya saja sudah jelek, makanya saya jarang banget dapat kesempatan nonton konser dengan tiket gratis. Hehehehe… Untuk hal lain, misalnya teman saya foto selfie bagus banget. Padahal saya tahu dia pergi sendirian dan termasuk orang yang malas minta tolong orang tidak dikenal untuk foto. Ternyata dia menggunakan alat yang saya baru tahu keberadaannya yang namanya Lazy Pod. Wah, saya kira hanya tongsis aja yang berguna untuk selfie. Kalau teman saya tidak pamer di akun media sosialnya, saya tidak akan tergerak untuk bertanya. 

Saya iseng membagi pamer sebagai berikut:


1. Pamer untuk ajang promosi 
Namanya saja untuk promosi produk tertentu, makanya tidak heran acaranya dinamakan pameran. Barang-barang yang mungkin belum beredar banyak di pasaran mulai dipamerkan pada acara tersebut. Sehingga menggoda calon pembeli untuk melihat dan mengetahui kelebihan dan kekurangan produk yang tengah dipamerkan. Kalau pamer untuk promosi, saya rasa sah-sah saja ya. Karena kalau tidak dipamerkan terlebih dahulu apalagi untuk produk yang benar-benar baru, tentunya konsumen sulit mendapatkan informasi. 

2. Setengah pamer setengah berbagi informasi 
Teman kamu pergi ke Eropa misalnya, dan bercerita setengah pamer kepada yang lain. Tapi ia juga tidak keberatan untuk memberi informasi tempat penginapan yang murah dan aman misalnya. Atau ia tidak segan memberikan rekomendasi tempat penyewaan mobil yang tidak mencekik leher. Bahkan memberikan nomor dan email yang bisa dihubungi asalkan tidak lupa menyebutkan namanya. Kalau yang seperti ini buat saya sih, walau rada syebel mendengar nada pamer pas awal cerita, tapi selama informasi yang diberikan berguna buat saya ya masih okeh juga. Lagipula pamer atau tidaknya, mungkin saya memang terlalu sirik. Jadi masalah datang dari saya. Hahaha, capek deh. 

3. Pamer Prestasi 
Pamer prestasi ada bagusnya ada enggaknya, melihat situasinya. Kalau sedang wawancara pekerjaan jelas prestasi yang ada harus dipamerkan. Pamer prestasi dalam situasi seperti ini bukan karena sombong. Tapi memang kita sedang menjual kelebihan kita pada orang yang juga harus membandingkan dengan pelamar kerja lainnya. Kelebihan kita apa jika dibandingkan dengan yang lainnya? Semua orang saat ini bisa bahasa Inggris, apakah kita juga menguasai bahasa asing lain baik lisan dan tulisan? Apakah kita sering terlibat dengan kegiatan sosial bersama banyak orang? Yang enggak banget kalau sedang berkumpul bersama teman yang sudah lama tidak berjumpa. Lalu sepanjang pertemuan, pembicaraan didominasi oleh yang mempunyai segudang prestasi. I’m your friend. Not your boss or social media. You will always good in my heart but probably not so much right now. 

4. Pamer ABIS 
Jiah, saya paling capek menghadapi yang satu ini. Karena biasanya setelah membanggakan diri sendiri buntut-buntutnya jadi menyepelekan orang lain. “Iya dong, saya sudah pernah ke Paris. Masa sih kamu belum pernah?” “Kamu belum tahu kalau sekarang SPT harus lapor online? Ngapain aja sih kamu?” Kadang saya berpikir, mungkin orang ini sedang krisis percaya diri. Sehingga dia merasa perlu pamer semuanya pada orang lain, terutama orang yang baru pertama kali bertemu. Yang saya tidak tahan adalah ketika berujung pada menyepelekan orang lain. Dia ingin orang lain kagum padanya dengan melecehkan orang lain.



Jadi sah-sah saja pamer? Sekali lagi buat saya tergantung situasi dan kondisi, karena terkadang saya sendiri lupa sama keduanya itu. Bisa jadi saya juga sudah membuat jengkel beberapa orang karena kebiasaan pamer. Tapi sungguh saya berharap tidak menjadi juragan pamer yang keempat. Saya tahu rasanya ketika dilecehkan oleh orang lain. Jadi, teman-teman jika memergoki saya berbuat sama persis dengan nomer empat boleh kok saya ditabok. Eh, maksudnya diingatkan agar jangan sampai sejauh itu. Peace all ^_^

6 komentar:

  1. Nomer 4 emang nyebelin bgt ya :D
    Eh saya br tau loh lazypod...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama jeung... Saya juga baru tahu dari fotonya temen :))))

      Hapus
  2. Waduh, jangan-jangan cuma saya aja nih yang ngga bisa pamer apa-apa mbak Ria. Yang mau dipamerin apa coba? :(

    BalasHapus
  3. Yang pamer happy. Orang lain eneg. Wkwkwk.. Ada juga kebalikan dari semua itu kan, humble bragging, itu lbh sepa' kalo gw bilang.

    BalasHapus
  4. Wwkwkwk, repot mah kalo ngomongin soal pamer dan promosi. Soalnya banyak yang gak bisa bedain, apalagi di desa kaya' tempatku. Yang iya, promosi pun dianggap pamer. :v

    BalasHapus
  5. Saya baru tahu Lazypod jugaaaa XD Hahahahahahah

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box