Rabu, 20 Januari 2016

Junks Collector


Foto kiriman Ria Tumimomor (@riamrt) pada


“Kamu hobi banget sih koleksi sampah?”

Begitu yang mama saya katakan setiap kali melihat koleksi saya yang di luar kebiasaan.  Ini di luar koleksi perangko yang sekarang lebih banyak mendekam di dalam lemari ya. Tapi koleksi tiket bioskop, tiket konser (yang cuman dikit wong jalan nonton konser – eh ini curhat apa out of the topic?) , tiket pesawat, tiket kereta api sampai bon makan and so on. Untuk bon makan di restoran biasanya memang saya simpan buat kenang-kenangan. Restoran apa dulu kaleee… Kalau fast food restaurant tentu saja tidak kecuali kudu disimpan karena ada undian (hare gene masih ngarep gratisan aja). Tapi selebihnya karena saya terlalu malas untuk membuangnya. 

Selebihnya? Ada lagi gitu selain tiket ini, tiket itu, bon pembelian makanan? Jangan-jangan bon pembelian di supermarket disimpan juga? Yap. Ini memang termasuk yang saya lupa atau tepatnya malas membuangnya. Ceritanya sih saya mau membuat catatan mengenai pengeluaran. Biasanya saya juga menyimpan slip pembelian dengan kartu kredit. Karena ini pengeluaran yang tidak kelihatan. Maksudnya, uang kas di tangan ada tapi sebenarnya saya sudah berhutang untuk belanja. Hanya saja nih,  catatannya sampai sekarang tidak pernah jadi, sementara tumpukan bon di dalam dompet semakin banyak. Kalau sudah penuh sih saya ingat untuk mengeluarkannya dari dompet. Atau dari tas. Hanya mengeluarkan. Untuk menumpuknya lagi di tempat lain.


Ada lagi yang memang saya simpan. Astaga? Sampahnya masih ada jenis yang lain? 

Ada. Sampah jenis lain yang sudah saya simpan sejak beberapa tahun lalu adalah bukti pembayaran tagihan listrik dan telepon serta PBB. Dulu, dulu, dulu banget mama saya sudah terbiasa membayar dengan uang kas ke bank yang telah ditentukan untuk tempat pembayaran. Ketika akhirnya pembayaran sudah bisa dilakukan lewat transfer via ATM, saya pun mengambil alih dari mama. Awalnya mama saya jelas menolak mentah-mentah. Karena selain tujuannya ia bisa jalan ke bank tempat pembayaran (bosen bow di rumah terus), ia meragukan cara pembayaran via transfer. 

“Nanti bukti bayarnya apa?”

Akhirnya, sejak ia menanyakan hal tersebut maka saya selalu menyimpan slip pembayaran via ATM. HIngga menumpuk di kotak penyimpanan di rumah. Sampai tintanya saja tidak kelihatan sama sekali. Lagi-lagi bukti pembayaran tersebut bisa turun derajat menjadi sampah.

Karena sampahnya sudah semakin menumpuk, saya harus mengambil tindakan sebelum mama semakin mengomel.

1. Kalau untuk tiket ini dan itu, karena memang tujuan saya menyimpan untuk kenang-kenangan biasanya akan saya letakkan di tempat tersendiri. Ada juga sih yang saya laminating dan jadikan pembatas buku. Paling tidak ada kegunaannya daripada hanya menumpuk di dalam kotak yang bakal terlupakan. Dan baru keingat kalau sedang benah-benah kamar. Itu juga kalau pas disuruh benah-benah

2. Untuk bon pembelian di minimarket atau di pasar atau yang gak memorable saking sudah terlalu sering ya langsung buang aja kaleeee. Kalau alesan untuk catatan pengeluaran langsung foto pake hape dan buang bon tersebut. Tapi sampahnya jangan pindah ke hape ya. Langsung catat dan buang file foto tersebut supaya gak menuh-menuhin kapasitas penyimpanan.

3. Bukti pembayaran tagihan listrik, PAM, telepon, kartu kredit, PBB dan yang penting lainnya memang sebaiknya disimpan. Tapi biasanya, tinta pada slip pembayaran ini tidak bertahan lama. Daripada tidak punya bukti pembayaran sebaiknya begitu bayar, langsung difoto dan disimpan deh di handphone. Atau di mana saja asal jangan lupa simpan di computer atau handphone? Setelah itu bukti pembayaran bisa dibuang atau dihancurkan saja supaya tidak jadi sampah dalam rumah.

4. Teman saya pernah cerita kalau dia paranoid banget orang lain tahu nomor kartu kreditnya atau nomor identitas lain (seperti listrik misalnya) dari bon-bon pembayaran yang dibuang. Jadi suka dirobek sampai kecil-kecil dan membuangnya pun terpisah. Sudah berasa adegan film spionase jaman dulu aja. Untungnya jaman sekarang tersedia beraneka ragam paper shredder.  Mulai dari yang murah sampai mahal banget. Setelah itu sisa kertasnya terserah deh mau diapakan. Bisa meniru teman saya dengan membuangnya di tempat terpisah. Atau daur ulang kertas tersebut. Atau yang gak ribet dijual ke tempat penampungan kertas. 




Jangan karena malas (seperti saya) atau dengan alasan membutuhkan bukti pembayaran maka kita (kita? Kamuuu aja kaleee) jadi menumpuk sampah di rumah. Padahal kotak tempat penyimpanan kertas-kertas itu bisa jadi tempat penyimpanan lain. Atau kotak tersebut juga tidak terlalu dibutuhkan sehingga ruangan di kamar bisa jadi lebih lega. 

Errr, terus saya sudah scan atau copy semua kertas ini atau belum ya…. *garuk-garuk kepala* 

12 komentar:

  1. Aku tuh koleksi semua bon, trus dikeluarkan dan ditumpuk lagi di laci lemari, wkwkkwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. samaan kita ya:) Aku pikir aku seorang aja yg doyan begini

      Hapus
  2. sama sih mba, bukti ini itu ada yg lagsung sy buang ada yg sy simpen karena berfikiran suatu hr perlu tp malah numpuk dan lama@ males beresin. kayanya hrs luangin 1 hari utk beberes ini mah

    BalasHapus
  3. xixixixi kayaknya sekarang jarang yang ngadain undian dari tiket makan di resto

    kalo aku , di dompet tu yang sering numpuk kertasnya ATM huhuu ampe kudu disortir atu atu takut keselip ama bukti pembayaran lain

    BalasHapus
  4. aku pernah ngalamin dompet gendut karena ternyata penuh dengan struk supermarket atau atm yang dijejelinke dompet hihihi. Tiket nonton suka aku simpen tapi lama-lama aku buang juga :)

    BalasHapus
  5. Halo,

      Apakah Anda mencari pinjaman bisnis, pinjaman pribadi, pinjaman rumah, auto
      pinjaman, pinjaman mahasiswa, pinjaman konsolidasi utang, pinjaman tanpa jaminan, usaha
      modal dll ... ATAU Apakah Anda menolak pinjaman oleh bank atau keuangan
      lembaga untuk satu atau lebih reasons.You berada di tempat yang tepat untuk
      solusi pinjaman Anda!
      Saya seorang pemberi pinjaman pribadi, saya memberikan pinjaman kepada perusahaan dan individu di
      bunga rendah dan terjangkau
      tingkat 2%.
      Tertarik? Hubungi melalui email perryclementloan@gmail.com untuk menindaklanjuti pemrosesan pinjaman dan
      mentransfer dalam waktu 48 jam;

      RINCIAN APLIKASI

      Nama
      Tanggal lahir :
      Jenis kelamin:
      Status pernikahan:
      Alamat:
      Kota:
      Negara / provinsi:
      Zip / kode pos:
      Negara:
      Telepon:
      E-mail:
      Tujuan keadaan Pinjaman:
      Jumlah pinjaman:
      Durasi Pinjaman:
      Pendapatan bulanan bersih.

      Kembali ke saya secepat mungkin dengan rincian di atas untuk informasi lebih lanjut.
      Saya berharap untuk mendengar dari Anda.
      Salam
      HUBUNGI KAMI DENGAN


    perry clement

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perry, kalau mau bikin charity, sumbangsih ya disumbangkan aja. Nggak usah berkedok jadi rentenir bule gini.

      Hapus
  6. Xixixi, hobi yang aneh. Kalo aku mah langsung buang.

    BalasHapus
  7. aku juga suka nyimpenin nota. tp kalo dah lama ya dibuang, heheh

    BalasHapus
  8. Gak suka nyimpen semuanya hehe :D

    BalasHapus
  9. Saya..saya angkat tangan penyimpan bon2 ginian..haha..

    tapi emang ada ocd sih aku hihi :D

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box