Jumat, 17 Oktober 2014

BPJS Step 1

Kami sekeluarga mendukung buanget waktu mendengar yang namanya BPJS. Tapi ya, namanya aja hidup bukan berarti tanpa masalah kan? Jadi inilah sekelumit cerita tentang ribetnya menggunakan fasilitas BPJS ini....

Bapak saya pensiunan salah satu BUMN dan sebagai pensiunan, beliau mendapat jatah berobat di salah satu rumah sakit di Jakarta. Jadi biar tuh rumah sakit jauh bener dari rumah, tapi karena sebagian besar biaya tidak perlu kami bayar sendiri ya jelaslah dibela-belain. Suka rada sirik sama beliau karena sebagai pegawai swasta ya cuman bisa usaha sendiri dengan ikutan asuransi. Kalau gak alamat MPP alias mati pelan-pelan. Okeh. Fokus. Aniwei, sudah beberapa tahun terakhir ini kedua orangtua saya harus kontrol ke dokter-dokter spesialis di rumah sakit tersebut. Lalu mendadak para pensiunan ini dapat briefing kalau sekarang pengobatan mereka harus menggunakan BPJS. Dan dimulailah cerita itu.

Saat briefing, disampaikan orangtua saya harus mendapat surat rujukan dari puskesmas terdekat dari rumah.. Karena orangtua saya gak mungkin deh pindah ke lain hati eh maksudnya pindah ke dokter lain. Sejak tahun 2008 mereka sudah punya dokter tetap untuk konsultasi.

Ternyataaaaaaaaa, ketika datang ke Puskesmas terdekat...jreng.... masalah pertama dimulai. Gak bisa sembarangan puskesmas walaupun itu dekat. Karena harus sesuai dengan wilayah tempat tinggal. Jadi kalau bertempat tinggal di tengah-tengah Jakarta Timur dan Pusat... ya mesti lihat lokasi keluarahannya dimana. Puskesmas yang didatangi harus seusai dengan lokasi kelurahan di KTP and kartu BPJS. Sampai di puskesmas yang bener.... masalah kedua nongol. Tidak bisa diurusin orang lain katanya si ibu di puskesmas. Harus orangtuanya sendiri yang dateng kesana. Jadi datanglah kedua orangtua saya ke puskesmas sana and you know what.... Lain kata bagian admin, lain kata dokternya....

"Haduh, mestinya bapak sama ibunya gak usah dibawa kesini gak apa-apa. Khan kasian mereka udah sepuh begini..."

Errr...gitu ya? Seneng karena dokternya baek. Masalah selesai dong?

Kata siapa?

Dokter gak bisa begitu saja memberikan surat rujukan ke rumah sakit tempat ortu saya biasa berkonsultasi. Kami.... eng ing eng... harus memberikan salinan atau copy dari status terakhir yang tentunya harus diminta dari dokter ortu saya. Nah, bagaimana caranya coba? Bukankah riwayat pasien itu gak bisa sembarangan dikasih pinjem walaupun itu ke keluarga pasien. Minta difotocopy'in? Apa iya nih pihak rumah sakit bersedia?

Pas tanya langsung via 500400 ke BPJS, petugas mengatakan kalau prosedur tersebut wewenang masing-masing puskesmas. Jadi belum tentu juga puskesmas lain akan meminta persyaratan yang sama persis. Judulnya PUYENG.

Sampai saya kelar ngoceh-ngoceh di blog ini, saudara saya baru mau usaha ke rumah sakit MENCOBA meminta salinan riwayat kesehatan orangtua saya. Mudah-mudahan dapet...




0 komentar:

Poskan Komentar

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box