Senin, 16 Juni 2014

Ini Fakta Dan Bukan Bohong




Gue tau postingan ini awalnya bakal bikin orang yang baca ngakak abis... KArena lagi-lagi ada hubungannya dengan sinetron. Yak... Sinetron juga yang akhirnya memberi inspirasi untuk kembali ngecap di blog ini.

Sejak beberapa tahun yang lalu ortu gue jadi penggemar berat sinetron yang namanya TUKANG BUBUR NAIK HAJI. Walau dengan seiring berjalannya waktu yang namanya tukang bubur di sinetron udah gak pernah nongol lagi, ortu gue tetap setia menanti sinetron yang satu ini. Boleh dibilang, tokoh yang bukan favorit namun ditunggu-tunggu adalah : BAPAK HAJI MUHIDIN.

Postingan ini bukan mau membahas betapa okeh banget aktingnya pak Latief Sitepu yang membuat penonton geram tapi sekaligus kangen sama kehadirannya. Ada satu hal yang menarik perhatian gue dari betapa busetnya tokoh Haji Muhidin ini. 

Tokoh antagonis Haji Muhidin ini diceritakan adalah orang yang senang mencela kelemahan orang lain. Misalnya ada pasangan yang belum dikaruniai anak atau tingkat kehidupannya masih rada-rada minus, pasti dicela oleh dirinya. Jika ada orang yang menegur, maka alasan klasik yang selalu ia pakai adalah: Loh, saya tidak menghina kok. Yang saya omongin kan apa adanya?

Kata-katanya mengingatkan gue akan seorang kenalan yang juga sering mengatakan hal yang sama. Orang-orang seperti ini sukses membuat suasana jadi canggung dan senyap karena celetukannya yang gak disensor dulu.

Banyak orang yang cuek saja mengatakan hal yang sebenarnya ia tahu pasti akan menyinggung orang lain. Tapi berpegang pada prinsip, loh saya kan hanya mengatakan hal yang sudah menjadi fakta. Bener kan dia gak bisa punya anak? Bener kan dia gak kawin-kawin? Bener kan anaknya narkoba karena dia gak bisa didik anak? Apa yang salah dari ucapan saya? Itu semuanya fakta kok.

Ohya, gue juga memperhatikan bahwa orang-orang yang antik ini biasanya gak bisa menerima celaan dari orang lain. Dan berkelitnya dengan alasan yang sama. Kalau orang lain itu hanya fitnah sementara dia mengatakan hal yang sebenarnya.

Hadeuuuh, capek banget deh menghadapi manusia-manusia model begini. Segi positifnya adalah, melihat mereka memaksa gue untuk berpikir apakah gue sebenarnya sama seperti si pak Haji RW Muhidin ini? (iye, gelarnya mesti disebut lengkap. Mungkin kalau dia lulus kuliah dan ada gelar insinyur, harus disebut juga sekalian).  Ngomong seenak jidatnya baik ketika berhadapan dengan orang lain maupun hanya via media sosial? Sehingga ujung-ujungnya bikin suasana jadi gak enak dan akhirnya goodbye sama yang namanya persahabatan? Atau mungkin persahabatan itu tidak tulus sehingga perasaan dengki itu tidak bisa dihindari?

Mudah-mudahan sih enggak ya. Masa iya sih gue sebegitu siriknya sama kebahagiaan orang lain sehingga akan gue katakan apa saja untuk kesenangan pribadi? Atau gue terlalu stress sama situasi sendiri sehingga orang lain harus ikutan stress juga?

Gue sendiri gak punya tips khusus menghadapi orang model begini. Jalan satu-satunya adalah menghindari kalau orang ini sedang kumat. Dan kalau sudah dihindari masiiiih juga doyan nyari gara-gara ya bakal gue sudahilah hubungan tersebut. Gue gak bilang hubungan pertemanan karena kalau temen, biasanya gak bakal doyan nyinyir seperti itu.

*Ternyata ada juga yang bisa gue pelajarin dari sinetron*


0 komentar:

Poskan Komentar

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box