Rabu, 15 Januari 2014

MALAS


Ketika hujan lebat kembali melanda dan banjir mulai beredar dengan manisnya di banyak area, maka stasiun TV berlomba-lomba meliput. Biasa. Bad news is good news, katanya . Kapan lagi bisa dapat energi negative dari orang-orang yang bĂȘte karena rumahnya kebanjiran.

Beberapa waktu lalu, ada seorang ibu yang tempat tinggalnya di lokasi yang langganan banjir diinterview oleh TV. Si ibu ini dengan senyuman lebar mengatakan bahwa ia tidak peduli walaupun rumahnya kebanjiran bahkan tenggelam sekalipun, ia tidak akan pernah mau pindah. Walau aneh untuk banyak orang termasuk gue, tapi bokap gue punya penjelasan. Alasannya, memangnya mudah mencari rumah baru? Tepatnya, memangnya ada rumah murah yang layak ditempati. Lho? Bukannya pemerintah siap memberikan rusun gratis? Iya, tapi lokasinya dimana dulu. Pasti jauh dari tempat dimana mereka biasa mencari nafkah. Kasarnya, gak ada yang bisa semuanya kita dapatkan di dunia ini. Jadi walau nyaman dari segi lokasi ya telan aja kenyataan kalau tempat itu ternyata rawan banjir.

Lalu ketika akhirnya banjir beneran datang melanda dan membuat daerah itu banjir abis-abisan, wartawan bertanya lagi. Secara udah jadi tradisi tiap tahun pasti banjir, nah apa tuh pencegahan yang dilakukan oleh warga? Simple. Cukup membangun lantai kedua untuk rumah mereka. Tidak ada satupun dari warga yang ditanyakan itu menjawab dengan : oh, kami berhenti untuk membuat sampah sembarangan. Jawaban mereka ketika ditanya kok masih doyan buang sampah sembarangan? Bukankah dengan begitu juga membuat lokasi tempat tinggal mereka jadi rawan banjir kalau musim hujan?
“SOalnya gak disediakan tempat sampah sama pemerintah.”

Gubraks.

Jadi mari kita ringkas semuanya. Tinggal di lokasi yang sebenarnya bukan tempat yang baik untuk ditinggali, seperti di pinggir sungai misalnya. Tapi tidak ada usaha untuk menjaga kebersihan karena ada banyaaak hal lain yang mesti dipikirin selain membuang sampah yang benar. Pokoknya tugas pemerintah untuk menyediakan tempat sampah, mengurus pembuangannya, membersihkan sampahnya, dan kalau sampai banjir semua salah pemerintah.

Mungkin gue juga perlu berpikir dan mengingat-ingat, apakah gue sendiri sudah menjaga kebersihan? Apakah gue sudah disiplin membuang sampah pada tempatnya? Dan jika ya, apakah atas dasar kepentingan bersama membuat gue berani menegur orang yang hobi buang sampah sembarangan ? Karena kalau sudah banjir, yang kena efeknya bukan hanya orang yang tinggal di area banjir. Tapi orang lain yang harus melewati daerah tersebut untuk ke sekolah, ke tempat kerja. Semuanya jadi terganggu. Atau mungkin belum berpikir sejauh itu?

0 komentar:

Poskan Komentar

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box