Senin, 18 November 2013

Hidup Yang Benar



Kotbah kemarin 17 November di gereja menarik juga.Mengenai tiga orang wanita yang menjadi cover utama majalahTimes di tahun 2002. Tiga wanita ini menjadi whistle blower di tempat kerja mereka masing-masing.Mereka menemukan kejanggalan dan memutuskan untuk menyelidiki, mengumpulkan bukti-bukti, dan membaginya dengan public serta melaporkan ke pihak berwajib.


Proses untuk melaporkan kejanggalan yang mereka temukan tentunya gak mudah. Mereka bertiga kebetulan adalah single parent yang memang bekerja untuk menghidupi keluarga. Apa yang akan terjadi kalau mereka melaporkan kejadian ini? Apakah mereka tetap bisa bekerja di tempat tersebut? Kalau mereka sampai kehilangan pekerjaan, bagaimana dengan keluarga mereka? Belum lagi hubungan dengan rekan kerja yang jelas mencari aman semua.Hari geneee, siapa sih yang mau kehilangan pekerjaan?Tutup mata saja dan biarkanlah yang busuk itu terjadi.

Lalu pendeta juga membahas tentang Paus Fransiskus yang terang-terangan mengatakan kalau Bank Vatikan sudah menjadi tempat cuci uang bagi para mafia.Keselamatannya jelas terancam tapi beliau tetap menginginkan yang terbaik dan tidak ragu membagi informasi itu kepada umum.


Kebanyakan dari kita sekarang jelas lebih memilih menutup mata dan maju terus walau melihat ada banyak hal yang sebenarnya tidakpantas terjadi. Simple aja. Hidup diri sendiri sudah susah ngapain juga nambahin kesulitan dalam hidup ini? Contohnya, melihat kecelakaan di jalan, maukah kita berhenti dan menolong? Mungkin hati kita ingin menolong tapi otak lalu memberikan fakta kesulitan yang akan terjadi. Kita bisa dituduh jadi pelaku penabrakan, kita harus berurusan dengan yang berwajib karena akan dimintai informasi plus kita bisa ditodong biaya perawatan. Berabe kan? 

Emang merasa tertohok juga sih  mendengar kotbahnya. Karena jujur aja sih gue jelas lebih memilih diam kalau melihat ada yang gak beres di jalan. Why? Misalnya ada orang yang menyerobot antrian dan gue tegor. Wah, bisa lebih nyolot orang yang di tegor dan akhirnya jadi ribut gak jelas. Males lah gue. Mendingan sih kalau gue, ada orang nyerobot, gue serobot balik tanpa perlu banyak kata-kata. Hahahha... Anyway, focus, cus. Gue lebih mencari aman daripada berusaha bertindak jika melihat ada yang tidak beres. Males mikir keributan yang akan terjadi kalau berusaha mengatakan kebenaran. Capek duluan mikirin proses akibat dari mengatakan kebenaran itu.

Di penghujung kotbah, pendeta bilang mungkin kita sulit untuk menegakkan kebenaran tapi setidaknya hiduplah yang benar. Dan itu…really not an easy task juga loh. Kanan kiri korupsi, bisakah kita tetap berjalan lurus tanpa terikut arus yang tidak benar? Ada yang melanggar peraturan lalu lintas, bisakah kita tetap diam di tempat dan terjebak macet sementara ada jalan yang lebih cepat tapi melanggar?


0 komentar:

Poskan Komentar

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box