Minggu, 09 Juni 2013

Let It Go

Terinspirasi dari blog seorang teman disini, jadi iseng pengen nulis juga (atau lagi?)

Kadang yah, walau kita sudah tahu gak ada yang abadi di dunia ini tetap saja kita suka berat melepas sesuatu. Entah itu barang (kalau kecopetan...misalnyaaaaah ataupun hilang gak jelas kemana), teman apalagi anggota keluarga. Untuk barang, selain hilang, diambil paksa, lupa, pokoknya barang kesayangan itu bikin nyesek hati deh kalau lepas dari genggaman. Untuk teman dan anggota keluarga, gue gak ngomong kalau mereka passed away. Tapi karena suatu sebab hubungan persahabatan itu putus, tus, tus. Dengan ataupun tanpa alasan yang jelas. Itu satu.



Kedua, kita demen banget berkubang dalam kesedihan dan itu berlarut-larut. Seolah kalau gak berkubang lama-lama di dalam kesedihan itu kita akan lupa bahwa masalah di dunia ini akan selalu ada dan siap menerpa kapan saja. Proyek yang sudah disusun lama ternyata gak tembus. Bete? Jelas. Terus dipikirin salah dimana saya? Mengapa proyek saya yang pasti bagus banget itu (kata diri sendiri loh)kok ditolak sih? Mengapa mereka gak mencoba menerima dulu? Atau mengeluhnya begini, mengapa saya ditakdirkan untuk gagal terus? Apa yang salah dari tindakan saya? Mengapa sepertinya semua yang saya lakukan tidak ada yang benar. Pokoknya yang self pity terusss.

Ketiga, kita demen menyimpan masalah. Masalah sepele biasanya. Sepele tapi sebenarnya bikin ngomel-ngomel. Misalnya, seperti yang kita tahu di jejaring sosial ini banyak orang add kita walau tidak saling kenal. Buat nambahin teman menurut gue sih okeh saja. Mulai menjengkelkan kalau teman yang satu ini demeeen banget posting misalnya foto korban kecelakaan (mungkin cita-citanya jadi wartawan lalu lintas kandas), atau jualaaan melulu dan memborbardir wall kita dengan barang dagangannya. Sekali, dua kali tegur. Masih gak berubah juga. Tetap saja seperti itu lagi.

Mungkin masih banyak lagi hal-hal bego yang berusaha kita pertahankan, pikirkan, debatkan, renungkan berujung-ujung gak terima. Lalu mulai mengeluh dan mengomel mengapa saya begini. Mengapa dia begitu. Mengapa mereka tidak berubah.

Okay. Yang pertama dulu. Teman yang sudah lama banget tahu-tahu jreng... memutus hubungan komunikasi secara sepihak. Otomatis ada self warning dari diri sendiri yang berteriak: pasti saya telah melakukan sesuatu yang salah. Pasti dia marah pada saya. Lalu kita akan merasa tidak rela kalau persahabatan yang sudah terbina lama putus begitu saja. Mulailah kita berusaha untuk mencari tahu dan semakin penasaran karena tidak mendapat tanggapan.
You know what? Gak ada yang abadi di dunia ini. Itu FAKTA. Okay, I can be a total devil even to my own friend. I admit that. Bisa jadi itulah yang memutus hubungan persahabatan ini. Tidak merasa membuat salah? Well, bisa jadi memang bukan karena gue. Inget, not all is about me. Jadi? Persahabatan itu putus begitu saja?
MENGAPA TIDAK? Kalau memang bisa membuat sehat lahir batin semua pihak, then so be it. Relakanlah. Lepaskanlah. Cherish the good memories. Setelah itu tutup buku dan move on sebelum membuat otak sendiri bolong karena kelamaan mikir dan hati kegerus karena merasa gak rela.

Yang kedua. Gagal terus-terusan bisa jadi dikarenakan kita masih pake cara yang itu lagi, itu lagi. Sudah tahu gagal di usaha yang pertama. Ya di usaha berikutnya coba dong dengan cara lain. Masih gagal juga? Coba lagi, lagi dan lagi sampai bisa berhasil. Gampang ngomongnya? Ya iyalah. Ingin membuat hidup tidka mumet bukan berarti gak usah mencoba cara lain agar bisa berhasil. Hidup jangan dibikin mumet dengan kelamaan mikir kenapa gue gagal melulu. Bikin capek dan sakit batin terus tau-tau radang paru-paru. Hih, amit-amit. Boleh lah menangis bombay selama beberapa hari. Tapi jangan lama-lama. KArena hidup berlanjut terus dengan atau tanpa kita.

Yang ketiga, ada banyak masalah sih yang kita simpen dan simpen. Tapi gue ambil contoh yang gampang aja seperti orang-orang yang mengganggu kita di jejaring sosial. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, mereka ribut update status kan di page mereka sendiri toh? Kecuali kalau mereka post di wall kita baru deh kita perlu ngomel-ngomel. Nah, cara-cara efektif supaya gak menerima update dari mereka bisa hide feed atau apalah. Kalau sudah begitu mengganggu menurut gue sih langsung saja unfollow atau unfriend. Gak perlu juga kaleee kasih SP ke orang tersebut. Ada beberapa hal yang hanya perlu tindakan. Kalau kehadiran mereka memang udah bikin capek mata, mengapa kita harus bitching ke mereka untuk merubah kelakuannya? Lepaskan masalah sehingga terbebas dari ngomel-ngomel karena efeknya bukan ke mereka kok. Tapi ke diri sendiri.

Mudah-mudahan gak pada bosen ya baca ini...soalnya kok panjang bener nih postingan.

4 komentar:

  1. Wogh, this is much much better than my entry :p, bener-bener cover all sides :D

    Yap, easier said than done, but not a mission impossible one to be accomplished. ^_^

    Be as happy as you can. Life is short, don't waste yourself over things you have no control, right?

    BalasHapus
    Balasan
    1. easier said than done... tapi mesti diusahakan *uhuks*

      Hapus
  2. gak semua orang yang mencoba move on itu bisa langsung let's go sik, mbak..
    Apalagi untuk kasusu kehilangan. Ada orang yang lama udah usaha tapi tetep aja ditempelin rasa nyesel yang gede.
    Tapi, aku sih (banyak) sependapat. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyalaaah... kalau gampang, gak bakal jadi postingan di blog... hahahaha... ini postingan orang galau ceritanya :)

      Hapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box