Senin, 17 Juni 2013

Curhat Admin


Bergaul di media sosial itu gampang-gampang susah jaman sekarang. Gampangnya? Cukup bermodal gadget mau yang murah kek atau yang mahal, download applikasi media sosial, siapkan jari jemari, registrasi buat akun, udah deh... Sudah bisa di mulai...

Namanya aja media sosial, berarti kita berada dalam suatu lingkungan dengan para tetangga. Mereka adalah para teman, follower, stalker, atau apalah. Jadi semua cuap-cuap kita itu jelas akan di baca oleh para tetangga kita ini. Kalau yang following banyak orang sih, kemungkinan tipis untuk dibaca semuanya. Atau yang baru mantengin sesudah jam kerja. Tapi buat yang tipe stalker, bisa jadi twit kita akan semuanya diikuti selalu.



Terus kenapa? Jadi kita harus menjaga semua yang kita lemparkan di timeline karena khawatir di baca orang lain ? Itu khan akun kita sendiri? Terserah kita dong mesti bagaimana?

Teorinya sih begitu. Tapi denger-denger akun media sosial seperti twitter misalnya bisa jadi semacam CV untuk si pengguna di kemudian hari nanti. Plus, sepertinya ngoceh-ngoceh gak keruan tentang apa saja bisa membuat orang lain lama-lama membaca seperti apa kita sehari-hari. Okeh, namanya juga akun pribadi ya. Terus terang, gue masih suka nyampah di akun pribadi terutama kalau sedang rame acara di tv yang jadi bahan perbincangan di media sosial. Why not? Tentu gue sadar kok, sampah itu ada yang menghibur bagi beberapa orang dan menjengkelkan untuk orang yang lain. I can't please everyone and I'm certainly need something to please myself. Jadi hayoooo aja nyampah...

Tapi ketika menjadi admin bagi komunitas yang gue ikutin, gue tidak bisa nyampah sembarangan. Apalagi chatting dengan teman menggunakan akun komunitas yang dalam hal ini adalah komunitas Kampung Fiksi. Untuk yang satu ini mesti benar-benar mesti melakukan berikut ini:

1. Gak boleh nurutin emosi
Most of the time, gue dapeeet aja orang yang mention ke Kampung Fiksi dengan pertanyaan yang bisa bikin kedua alis naik dan ngoceh-ngoceh sendirian di depan

layar. Tapi itu di belakang layar. Di timeline, gue tetap menjawab...kalau memang bisa dan perlu di jawab... Dengan datar...
Jeduk-jedukin kepalanya gak usah di cerita'in di timeline

2. Service
Jadi admin itu juga bertugas membantu kalau ada orang yang nanya tentang Kampung Fiksi atau event-event apa yang ada di Kampung Fiksi. Karena sekarang kantor yang bergerak di bidang service itu stand by 24 hours 7 day a week jadi kayaknya gue dikira seperti itu juga. Duh, maaf-maaf ya. Gue bertugas sendirian di twitter Kampung Fiksi. Itu juga sambil ngantor. Jadi ya gak mungkin dong begitu di tanya harus langsung gue jawab detik itu juga. Apalagi kalau jam udah malem.

3. Everybody makes mistake
Karena keterbatasan waktu, gue sering schedule sehari sebelumnya untuk twit di hari-hari tertentu. Obviously I'm slip. Jadi ya maaf-maaf kalau tahu-tahu ada twit jam 3 pagi karena itu pastinya salah setting. Mohon di maafkan bangeut.

4. Scheduling twit
Mengapa gue memutuskan scheduling twit? Setiap kali kita bikin event dan akhirnya event itu kelar, ada aja yang akan ngomong...kok saya gak tau sih? Kapan pengumumannya? Dengan scheduling, rentang waktu untuk nge-twit ini bisa di atur berapa menit sekali. Bisa lebih sering dan tentunya orang akan lebih ngeh kalau ada event.

5. Tidak menjawab.
Seneng kalau ada orang yang bertanya karena berarti mereka memperhatikan twit-nya. Tapi kalau yang di tanyakan bisa di baca di timeline (yang biasanya di jadikan favorit agar orang lebih gampang mencarinya) maka biasanya akan di arahkan ke sana. Dan terserah admin juga untuk menilai mana pertanyaan yang kudu di jawab dan yang gak perlu. Bisa karena gak kebaca. Bisa karena udah malem. Bisa juga karena memang gak butuh untuk di jawab.

6. Sabar
Gue memang produk lama dan sering merasa gak nyaman di panggil Min, mimin, minmin... Yang keinget sama gue langsung seekor monyet yang terpaksa ikut mencari nafkah dan di panggil...Sarimin... Ada istilah sendiri oleh sesama admin Kampung Fiksi: #DJTwitKF. Tapi toh tetap gue di panggil mimin. Ya gak apalah... Masa mau ngamuk-ngamuk dan teriak: DON'T CALL ME MIMIN?


Jadi, kalau gak membiasakan untuk menahan diri di akun pribadi kayaknya gue bisa bablas deh di akun Kampung Fiksi ^_^

8 komentar:

  1. Hihihi... Mantab Min, sabar aja Gan, makasih ya Mbakbroooo!

    BalasHapus
  2. Hihihi.. jadi admin harus jaim ya mbak, harus netral juga.
    Gak apa mbak jadi mimin, banyak pahala :D

    BalasHapus
  3. Kalo kata temen yang pernah jadi admin... "Admin juga manusia" dan ga semua orang bisa menanggapi dengan baik..

    Jadi, banyak sabar ya Mbak ^^

    Tetap semangat

    BalasHapus
  4. Mbak, mau nanya soal scheduling twit. Cara bikinnya gimana, ya? Siap2 j sblm nanti tempat kerja aku memutuskan utk punya akun twitter.
    Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. google, cari hootsuite, create akun di situ ^_^

      Hapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box