Jumat, 31 Mei 2013

Ocehan Tidak Jelas di Pagi Hari


Seminggu yang lalu ada acara di kantor gue dan sekalian ada makan-makannya. Pemesanan makanan via catering itu minimal untuk 50 orang sementara yang makan mungkin hanya sekitar 40 orang. Jadi ada sisa makanan dong? Pihak catering dengan sigap membungkus sisa makanan untuk yang ingin membawa pulang. Dan yang paling banyak sisa adalah nasi. Gue bawa pulang ajalah sebagian sisa nasi itu dan ada beberapa makanan lainnya. And you know what my father said after seeing me with left over meal? Gak bilang apa-apa sih. Tapi dia dia menyeringai lebar banget dan tepok jidat. Itu gayanya kalau mau bilang: ya ampun, nak. Kamu malu-maluin banget sih!

Beberapa tahun yang lalu di tempat kerja yang sebelumnya, gue melihat peristiwa yang pasti menurut ukuran bokap gue...lebih tepok jidat lagi. Jadi, katakanlah ada pertemuan suatu perusahan yang di hadiri para pemasok dana bertempat di hotel mewah. Disitu sekali lagi gue belajar, jangan pernah menilai orang dari penampilannya saja. Para pemasok dana ini berpakaian yang menurut ukuran gue terlalu biasa banget dan beberapa malah cenderung cuek. Dibilang mereka gak bisa beli baju kayaknya gak mungkin deh. Secara mereka termasuk pemasok dana untuk operasional perusahaan. Okelah, mungkin mereka termasuk tipe-tpe yang antik yang gak mau terlihat kebanyakan duit untuk alasan-alasan tertentu. Urusan mereka lah dan kok gue usil amat. Lanjut. Beberapa menit kemudian, mereka membuat gue tercengang ketika mengeluarkan wadah seperti tupperware, locked & locked dan semacamnya deh. Untuk apa? Untuk menyapu bersih makanan yang tersedia di acara pertemuan itu. Ini bukan acara di rumah-rumah yang setelah berakhir para ibu atau bapak menyerbu sisa makanan untuk di bawa pulang. Ini acara pertemuan di hotel mewah dan mereka dengan cuek membawa wadah untuk membawa pulang makanan.

"Yah, mungkin mereka pikir kan acara itu diadakan pake duit mereka juga. Jadi gak mau rugi dan merasa makanan itu hak mereka," komentar seorang temen gue setelah gue bercerita mengenai kejadian itu.
Tapi bokap gue berkomentar lain mengenai hal itu. Menurut bokap, memang sih ada hal-hal yang okelah diterima karena memang diberikan. Tapi ada juga yang gak perlu kita terima karena sebenarnya kita gak butuh-butuh amat. Dan gak semua barang bisa diperoleh dengan gratis karena itu namanya gak menghargai nilai dari barang tersebut. Ada batasan-batasannya.

Dapat barang gratis itu memang asik. Gue gak membantah hal itu. Seperti waktu gue dapat tiket murah atau malah gak perlu bayar sama sekali untuk nonton konser. Bukan karena gue gak menganggap hal tersebut pantas di bayar mahal. Masalahnya duit gue yang limited edition dan kalau memang bisa dapat gratis akan gue usahakan itu sampai detik-detik terakhir. Tapi untuk beberapa hal gue tentu saja gak enak minta yang gratisan apalagi dengan ngotot. Contohnya?

Ketika orang yang gue kenal menulis buku, gue pasti joking around bilang: eh, gue minta ya buku elo lengkap dengan tanda tangannya. In reality, ya enggak laaaah! Lo mau tahu bagaimana perjuangannya bisa sampai jadi buku yang nongkrong di toko-toko buku? Gak gampang booo! Jangan dikira cuman tinggal duduk, mikir, lalu menuangkannya begitu saja di tulisan. Jadi, berpikirlah dulu sebelum ngotot minta buku gratis sama temen sendiri atau langsung minta sama penulisnya yang gak kenal kita sama sekali.

Iya, mengerti banget kalau sekarang apa-apa mahal. Semua pengeluaran yang dirasa gak perlu memang perlu di potong. Hidup kudu berhemat. Kalau bisa dapat potongan harga bagus lah. Bisa dapat gratis itu lebih asik lagi. Gue gak gagal paham untuk yang satu ini karena juga merasakan hal yang sama. Tapi tetap ada batasan-batasannya. Please stop bertanya ke seluruh dunia dimana lagi ada potongan harga untuk acara ini dan itu. Please stop pushing ke seluruh dunia untuk minta diajak kalau ada yang gratisan. Kalau dunia menginginkanmu pergi maka kamu akan berkesempatan untuk itu. Gak semuanya tentang kamu dan gak semuanya harus untuk kamu.


Gue jadi belajar bahwa gak semua orang mau ngerti tentang latar belakang mengapa orang ini bersikap seperti ini padahal dibilang kekurangan duit juga enggak. Atau mungkin memang kekurangan dana but too proud to say it. And boleh saja bilang, gue gak peduli apa tanggapan orang lain karena this is my style. TErserah saja sih. Itu hak masing-masing orang.

Gue juga belajar; apa yang mengganggu menurut pandangan gue maka gue juga tidak boleh melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Misalnya gue kesel karena ada orang yang minta buku gratisan melulu (Ceile, emang gue udah publish buku apa aja? Contoh doang iniiiiih. Contoooooh.) maka gue gak boleh melakukannya terhadap temen sendiri. Apalagi ke penulis yang enggak gue kenal sama sekali.

Well, setidaknya gue belajar gak akan bawa pulang sisa makanan lagi karena khawatir di komplen sama bokap. Lho? hehehehhe... *kesimpulan ngawur*


2 komentar:

  1. Ternyata, haha, jadi entri juga yah :)) Gw terinspirasi bikin cerita berdasarkan entri ini jadinya, wahahaha..

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box