Jumat, 26 April 2013

Jajan Untuk Berkumpul Bersama

Saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka jajan karena badan sudah cukup mengembang tanpa hobi memamah biak tersebut. Tapi pada prakteknya akhirnya saya terbawa suasana juga jika sedang berkumpul dengan teman-teman. Alasan teman-teman saya adalah dengan jajan kita bisa mengakrabkan diri, menolong sesama dengan membeli dagangan si penjual dan menikmati beragam jenis makanan di Indonesia. Alasannya terlalu bombastis yang mungkin akan membuat kita tertawa ketika mendengarnya. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin ada benarnya juga.

Pertama alasan untuk mengakrabkan diri itu memang betul terjadi pada saya. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya jarang sekali pergi ke luar rumah hanya untuk jajan. Tapi ketika pertama kali bekerja dan teman-teman kantor mengajak saya untuk mencoba sate bapak ini di jalan sana atau roti bakar di belakang kantor, saya tidak bisa menolak. Pada akhirnya dengan mengobrol tentang makanan yang tengah kami nikmati suasana canggung perlahan mencair. Pada saat kita tengah menikmati jajanan di jalan itu suasana rileks terbangun.  Sambil mulut lancar mengunyah cerita-cerita mulai mengalir santai. Lalu saling bertukar informasi tempat jajan dimana lagi yang enak. Di tempat ini lebih enak sate Padang, di sana lebih enak mie ayam dan yang agak jauh lebih enak lagi siomay dan entah apa lagi.  Walau terkadang lokasi tempatnya itu agak minggir ke got sediki alias AMIGOS juga tidak jadi masalah. Pernah juga kami makan di area Venice. Maksudnya, tempat makanan itu deket sungai yang mengalir deras jadi berasa di Venice ceritanya. Karena ramai-ramai, lokasi tempat yang sebenarnya enggak banget itu jadi seru-seru saja. Kebersamaan menyantap makanan itu yang penting. Jadi, baiklah alasan itu masuk akal juga.


Lalu alasan untuk menolong sesama itu sih menurut saya agak berlebihan karena walau kita memang menolong si penjual dengan membeli dagangannya, tapi pastinya tujuan sebenarnya bukan untuk itu. Bagi yang suka jogging sore-sore di Gelora Bung Karno pasti mengerti apa yang saya maksud. Saya dan sebagian besar teman senang sekali dengan acara jogging ini. Tujuan untuk menyehatkan dirinya itu kadarnya jauh lebih sedikit daripada semangat untuk jajannya. Entah itu jajan bakwan, pisang goreng, otak-otak, mie baso, sate ayam dan banyak lagi.  Aroma makanan dari para penjual itu benar-benar membuat perut (yang baru jogging sebentar) langsung menangis minta diisi. Soal kebersihannya? Sepertinya tidak ada yang memikirkan lagi, termasuk saya. Padahal kalau dipikir, piring-piring dan sendok garpunya itu apa dicuci dengan benar? Rasanya masih ada sisa lemak dari makanan sebelumnya. Tapi mungkin itu yang membuat enak. Pernah juga saya jajan baso  di jalan bersama teman dan besoknya kami berdua sama-sama diare. Apakah kami kapok? Tentu saja tidak. Pastinya kami tidak akan membeli di penjual yang sama yang belum tentu akan lewat lagi di jalan tersebut. Makan gorengan juga bukan berarti tidak ada resikonya. Saya pernah melihat anak-anak yang sebelum membeli mereka memilah-milah sendiri gorengan mana yang ingin dimakan.  Dengan tangan mereka sendiri. Jadi setelah mereka pergi saya langsung bilang ke si penjual, tolong yaaa saya hanya mau yang masih panas. Padahal minyaknya juga sama bisa membuat kesehatan menurun drastis.

Untuk jajan, saya tidak harus bersiap pergi ke suatu tempat khusus mencari yang saya inginkan. Banyak juga yang lewat di depan rumah dan selalu saya tunggu. Seperti tukang sate dan nasi goreng. Sialnya mereka selalu lewat terlalu malam sehingga bukan hal yang tepat untuk dilakukan jika sedang diet. Tapi ada rasa bersalah setiap kali terdengar si tukang sate menyerukan dagangannya dan saya tidak membeli. Apalagi kalau pas bertemu muka dengan saya dan dia bertanya, gak beli bu? Terkadang sih diet saya bablas juga karena tidak tega mendengar pertanyaannya. Jadi, ada benarnya juga ya kita jajan untuk menolong orang? (berusaha mencari pembenaran).

Dan ada Ketiga soal tahu banyak variasi makanan di Indonesia, bisa dibenarkan. Saya tidak pernah tahu seperti apa itu kerak telor. Sampai suatu hari orangtua saya mengajak ke Pekan Raya Jakarta. Baru deh saya tahu seperti apa sih yang namanya kerak telor itu. Nah, itu makanan yang benar-benar khas Betawi. Hanya saja sekarang banyak jajanan yang penjualnya memakai embel-embel: bakwan Malang, soto betawi, sate Padang, Sate Madura, soto Makassar, cireng Bandung, mie Aceh… Tinggal masalah ini benar-benar menggunakan bumbu khas daerah asalnya atau asal jadi sudah bukan jadi masalah yang di pikirkan. Bisa jadi setelah menyantap jadi ingin tahu rasa makanan tersebut di tempat aslinya akan seenak apa. Biasanya sih, memang lebih enak tempat asalnya.

Walau saya awalnya tidak terlalu suka jajan, tapi bukan berarti orangtua saya tidak punya hobi tersebut. Mereka justru lebih parah dari saya karena boleh dibilang, yah menurut mereka jajanan jaman duluuu banget itu lebih enak daripada sekarang. Kalau mengutip kata papa, jajanan sekarang lebih cantik di penampilan tapi melupakan rasa. Sementara kata mama, dulu aroma martabak telor itu benar-benar mengundang untuk membeli. Sekarang, ketika si penjual sedang memasak tidak tercium aroma yang mengundang tersebut. Karena mereka suka sekali jajanan, makanan yang mereka beli itu dibawa pula masuk ke dalam…bioskop. Kebayang gak sih reaksi penonton lain ketika mencium bau mie goreng dari bungkusnya? Lalu bagaimana orangtua saya menyantap mie goreng panas tersebut? Langsung dengan tangan! Saya jadi curiga jangan-jangan mereka ini yang membuat pihak bioskop membuat larangan untuk tidak membawa makanan dari luar.

Jajan buat saya dan teman dan keluarga menjadi ajang rekreasi dan refreshing. Pada saat jajan dan menikmati makanan yang terhidang itulah menjadi suasana yang menyenangkan. Inilah serunya tinggal di Indonesia apalagi di Jakarta. Dimana makanan apa saja tersedia pada saat kita sedang menginginkannya. Nah, abis membuat postingan ini saya jadi ingin jajan baso deh…


Tulisan ini disertakan dalam Femina Foodlovers Blog Competition 2013





4 komentar:

  1. kalo saya sih emang suka jajan terutama bakso dan mie ayam. cuma kadang ga dibolehkan sama bokap. hehee...

    BalasHapus
  2. tentu aja boleh dikutip soal posting ke koreanya

    BalasHapus
  3. Ihihihi.... nanti kena tifus berjamaah :)))

    Emang bener sih, jajan rame-rame itu asik banget ^_^ Yah sudahlah gw cukup jajan berjamaan ke mal atau belakangnya mal sama para bocah :))

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box