Jumat, 19 Oktober 2012

Mulut dan Jari


Gue pernah mengulas tentang bagaimana jari itu lebih cepat menari-nari di keyboard smartphones kita daripada otak. Pokoknya lagi emosi, main pencet sana sini lalu jreeeng...enter! Abis itu nyesel, kenapa gue berkata seperti itu tadi? Akhirnya ada yang tersinggung sama kata-kata yang sudah di post itu. Dan berakhir ribut dengan sukses. Masalah yang ada gak selesai tapi malah bikin masalah baru. Tentu sih, ada juga memang beberapa orang yang sengaja melempar hal yang bikin rusuh.



Sama halnya dengan jari jemari, mulut juga bisa menjadi senjata yang mematikan bagi orang lain ataupun diri sendiri. Udah sering kita melihat di berita bagaimana perkelahian mematikan itu sebenarnya berawal dari ejek mengejek ataupun pembicaraan yang sepele. Misalnya, menggoda soal kepemilikan barang.orang lain, mengejek, dan yah...pokoknya setelah diurai masalahnya kita sebagai orang luar akan bilang,"E buset, begitu aja awalnya?"

Susah memang sih menjaga mulut untuk berkomentar atau mengatakan sesuatu. Tapi gue merasa sudah pada saatnya kita menggunakan otak terlebih dahulu, di diskusikan dengan hati baru deh ngomong. Kalau mengikuti hati aja biasanya sih kata-kata akan berhamburan keluar dari mulut. Atau malah anggota tubuh lain akan ikut bergerak mengikuti kata hati tanpa disertai pertimbangan dari otak.

But anyway, gue melihat bagaimana kata-kata yang keluar dari mulut seseorang itu bisa mempengaruhi cara pandang kita terhadap orang tersebut. Jika awalnya kita menaruh hormat pada orang tersebut katakanlah dari segi umur, maka akibat mendengar kata-katanya yang misalnya selalu merendahkan orang lain...bisa jadi kita akan berpikir...kok orang ini begini sih? Atau ada orang yang sudah lama bikin kita jengkel dan akhirnya kita terpancing membalas dengan menggunakan kata-kata kasar. Bisa jadi juga, suasana hati kita yang sedang jelek membuat kita sulit untuk mengontrol kata-kata agar tidak keluar begitu saja dari mulut.

Bukan berarti gue gak pernah kayak gini loh. Justru karena gue sering melakukannya maka jadi berpikir bahwa kemampuan untuk mengontrol emosi itu penting banget. Juga menggiatkan otak agar mampu menenangkan hati yang panas serta menjaga agar jangan sampai ada kata-kata keluar yang akan disesali nanti...

4 komentar:

  1. iya, saya kemaren menyaksikan ada yang berselisih di blog. hanya sepele sebenarnya, tapi jadi panjang. memang risiko bahasa tulisan. OK saya akan belajar berhati2, menggunakan otak deh. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang sih terkadang perselisihan itu tidka dapat dihindari tapi ada baiknya kalau kita gak mencari gara2 duluan :)

      Hapus
  2. But anyway, gue melihat bagaimana kata-kata yang keluar dari mulut seseorang itu bisa mempengaruhi cara pandang kita terhadap orang tersebut. Jika awalnya kita menaruh hormat pada orang tersebut katakanlah dari segi umur, maka akibat mendengar kata-katanya yang misalnya selalu merendahkan orang lain...bisa jadi kita akan berpikir...kok orang ini begini sih? <--- Ini bener banget ;)

    BalasHapus

Ria's Been Here

Ria Tumimomor’s Travel Map

Ria Tumimomor has been to: France, Germany, Indonesia, Italy, Netherlands, Singapore, South Korea, Switzerland.
Get your own travel map from Matador Network.

Flag Counter

Flag Counter