Minggu, 16 September 2012

Jauh dan Dekat


Di suatu Minggu siang di acara segmen agama Katholik ada sinetron yang okeh juga pembahasannya. Gue gak ngomongin soal akting para pemainnya yang tentu aja masih kentara banget kagoknya. Tapi lebih pada isi ceritanya yang lumayan menyentil.

Jadi singkatnya, sinetron siang itu mengenai keluarga kecil dengan seorang pembantu. Ayah yang super sibuk di kantor, ibu yang sibuk keluar dengan para anggota jemaat gereja untuk pelayanan rohani bagi umat yang membutuhkan. Nah, sementara si anak bengong gak ada yang memperhatikan di rumah. Hanya bisa berkeluh kesah sama si pembantu yang kelihatannya sudah lama bekerja disana. Jadi, akhirnya si anak lama-lama kesal juga dan akhirnya mengeluh secara terbuka pada orangtuanya. Si Bapak langsung ngeles, loh saya khan sibuk cari uang buat kamu sama mama. Si Ibu langsung menangkis, saya juga sibuk dengan tugas pelayanan di gereja karena kita harus berbagi dengan orang lain. Padahal dirumah, si ibu boro-boro memperhatikan anaknya yang tengah di skors karena bolos dari sekolah. Tidak peduli ketika si pembantu memelas minta ijin untuk berbaring sejenak karena sedang sakit. Mulai melihat ada yang ironis disini?

Si Ibu yang terus menerus menekankan bahwa ia harus berbagi kasih dengan orang lain melalui pelayanan rohani. Tapi, yang membutuhkan limpahan kasih sayang rohani di rumah ternyata malah luput dari pengamatan.

Kalau dipikir sih, kita tuh sering banget seperti begitu. Seperti kata pepatah di dalam pelajaran bahasa Indonesia, semut di ujung lautan terlihat sementara gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Yah, kurang lebih begitu deh pepatahnya. Jadi, kita lebih ribut dan sibuk dengan hal yang berada jauh dari kita tapi lupa memperhatikan yang dekat. Ada banyak orang di sekitar kita yang memerlukan bantuan tapi kita gak melihat atau pura-pura tidak melihat. Bisa saja karena perhatian kepada yang jauh itu mungkin lebih pada publisitas. Sementara dengan yang dekat, yah...siapa yang melihat selain diri kita sendiri? Tidak ada segi publisitasnya disana, tidak ada yang tau, tidak ada yang memperhatikan akan apa yang kita lakukan.

Gue rasa tanpa sadar kita semua termasuk gue sendiri sering lebih nyolot akan segala sesuatu yang lokasinya buset jauh bener. Tapi mata gue buta sama hal-hal sama yang lokasinya lebih dekat. Gak ada salahnya sih memperhatikan apa yang terjadi di luar sana, jauh, dekat.

Sama seperti kita tanpa sadar sering menyalak pada orang dirumah seperti keluarga sendiri, atau pada teman. Namun bisa manissss banget sama orang yang asing sama sekali. Kalau kampanye, itu mungkin termasuk pencitraan kali ya? Halah, gue jadi kemana-mana ngomongnya.

Anyway, mudah-mudahan gue juga bisa mengingatkan diri sendiri untuk lebih peduli pada orang-orang terdekat dan tidak hanya sibuk memperhatikan yang nun jauh disana.

10 komentar:

  1. Nice sharing Mak, thank udah mengingatkan juga yaa

    BalasHapus
  2. kalo saya, terkait soal tetangga, bersyukur sekali dulu yang semppat agak nggak enak interaksinya, sekarang makin baik.
    tetangga adalah saudara yang terdekat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, tetangga adalah kerabat terdekat kita saat ini. Tapi yang gue maksud gak hanya sebatas tetangga; tapi benar-benar orang yang dekat sama kita. Seperti keluarga sendiri juga

      Hapus
  3. Sama seperti kita tanpa sadar sering menyalak pada orang dirumah seperti keluarga sendiri, atau pada teman. Namun bisa manissss banget sama orang yang asing sama sekali.

    di satu sisi emang kerasa ironis bangets sih, hahaha :)) di sisi lain, terkadang lebih mudah untuk "manis" ama orang asing yang ngga punya prasangka apapun dan lebih mudah "menerima" apa yang diberikan (mungkin karena dia ngga ekspektasi apapun jadi sekecil apapun perbuatan 'baik' yang kita lakukan yaa dianggap bagus :p).

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang, karena namanya aja orang asing kita masing2 gak ada ekspektasi apa2... Tapi kl smp lupa perhatian sm org terdekat itu yang miris...

      Hapus
  4. Wah..serasa kena sentil baca artikel ini. karena sibuk, aku biasanya ~yang dekat tidak di perhatikan, yang jauh terlupakan~ So sad! Padahal silahturahim itu penting :)

    "Tentangga adalah saudara terdekat" aku suka ini, mbak Ria. Memang benar kita sering lupa betapa pentingnya tetangga dalam kehidupan kita. Apalagi kalau kita hidup di rantau, ketika keluarga dan saudara tinggalnya jauh, maka hanya tetangga yang bisa di andalkan bahkan di repotkan. Thx ya... sangat memotivasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkt Tahun baru 2013 aku kecelakaan di rumah.... Siapa yg nolongin duluan anter ke rumah sakit? Tetangga... Jadi walau seberapa menjengkelkannya mereka tapi mereka juga yang cepat tanggap kalau diperlukan

      Hapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box