Minggu, 12 Februari 2012

Salah Siapa?

 Beberapa tahun yang lalu gue pernah mendengar dua petinggi di kantor saling bertukar cerita. Salah satunya menceritakan tentang mobilnya yang dicuri orang karena dia lupa mengunci mobil. Nah, terus si pendengar otomatis langsung berkata bahwa itu adalah kesalahan si pencerita. Siapa suruh lupa mengunci mobil. Jelas si pencerita kejadian memprotes perkataan temannya dengan bertanya,"Mengapa itu jadi salah gue? Gue yang kemalingan kok gue yang salah? Yang salah jelas si maling mobil dong!"

Meringis.

Kisah itu teringat kembali sama gue ketika mendengar cerita dari seseorang tentang kejadian buruk yang menimpa dirinya. Singkat cerita, orang ini mengalami naas karena dirampok.


Yang membuat gue jadi berpikir setelah mendengar ceritanya adalah perkatannya,"Tidak ada sesuatu yang gue buat yang bisa membuat orang menyalahkan gue..."

Loh? Maksudnya?

Peristiwa perampokan itu terjadi di siang hari sekitar pukul 1! Jadi orang tidak bisa menyalahkan dirinya karena masih berada di jalan pada malam yang telah larut.

Pada saat kejadian itu ia sempat dicekik oleh pelaku yang tujuannya jelas untuk melumpuhkan dirinya. Bayangkan kalau sampai saat itu ia pingsan pasti ceritanya tidak akan berhenti sampai kasus perampokan. Yang ditanyakan orang adalah...apakah pakaiannya mengundang? Jadi tetap itu kesalahannya kalau dia menggunakan pakaian yang super mini dan ketat misalnya.

Setelah mendengar itu gue jadi geleng-geleng kepala sendiri dan berpikir. Kok ya kasian amat korban perampokan dan tindakan kejahatan lainnya. Sudah dirinya yang apes dan mengalami perlakuan tidak menyenangkan masih ditambah lagi dengan orang-orang yang berusaha mencari-cari apa sebabnya dia sampai jadi korban. Seolah, dari dalam diri kita ada teriakan...hey, rampok lah diriku. Aku benar-benar menginginkan kamu melakukan kekerasan padaku!

Mengapa kita tidak mencoba perilaku berpikir dengan tidak memulai pernyataan yang menyudutkan seperti, kamu sih pulangnya terlalu malam! Atau kamu sih berpakaian yang mengundang orang untuk menganggu. Tapi cobalah untuk DIAM AJA kalau tidak bisa menenangkan hati si korban. Bisa khan dimulai dengan kalimat,"Syukurlah kamu selamat..." atau apa kek selain dari kata-kata,"PASTI KAMU..." yang menyudutkan dan mencari-cari kesalahan.

Yang menjadi masalah bukan karena korban ataupun siapa saja dari kita memancing orang lain untuk merampok dengan penampilan kita ataupun karena keteledoran kita sendiri. Tapi mengapa kejahatan bisa terus terjadi di sekitar kita? Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah agar diri kita jangan sampai jadi korban? Dan apa yang bisa kita lakukan untuk memberi dukungan pada korban dan bukan memojokkannya?

2 komentar:

  1. kejahatan itu terjadi karena pemerintah negara ini gak becus memberikan lapangan kerja yg cukup utk rakyatnya. Banyak orang nganggur. banyak yg butuh uang, sementara mal merebak dimana2. orang2 pengangguran pada ngiler. kalo gak kuat iman, merampoklah mereka...'lho kok jadi panjang komentnya?' hehee

    BalasHapus
  2. itu curhat abis kayaknya udah bukan komen lagi... hihihih... tapi memang bener sih... permasalahannya udah sedemikian kompleks :( Tapi mereka mau cari enaknya aja dengan komen jangan pake pakaian mengundang-lah dan sebagainya :(

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box