Rabu, 21 Desember 2011

Jadi dewasa itu...

Tadi sempet rame ngobrolin tentang kejadian seseorang yang mau memberi kejutan pada temannya yang berulang tahun tapi berakhir dengan dirinya sendiri yang terkejut... Persoalan bertambah panjang karena keluarga si perencana kejutan ini gak terima dengan kejadian yang berbuntut akibat "KEJUTAN" tersebut.

Jadi kepikiran sama gue, bahwa memang menjadi dewasa itu tidak gampang ya bowww...

Ketika kita anak-anak *yang umumnya belum mempergunakan kapasitas otak dengan sepenuhnya* melakukan sesuatu, kemudian timbul masalah...maka siapa yang diminta tolong duluan untuk menyelesaikan? Ya orang tua tentunya...walau belum tentu juga sang orang tua ini bisa bersikap dewasa dalam menyelesaikan masalah.




Misalnya nih, gue main bola (gak mungkin banget ya gue main bola tapi yah, ini kan namanya contooooh), lalu praaaaang... gue menendang bola sekuat mungkin...ke jendela tetangga. Apakah gue akan berdiri memberikan senyuman termanis gue? Tentu tidak karena pastinya gue tau itu salah dan akan kabur dari TKP. Lalu memohon sama orang tua agar membela gue dengan memberikan wajah sepolos mungkin dan mengeluarkan kata-kata andalan: SAYA TIDAK SENGAJA...

Kalau orang tua yang bijaksana mungkin akan membawa gue untuk bareng minta maaf sama tetangga tersebut. Orang tua yang tidak bijaksana mungkin akan melindungi gue dengan bilang, iyaaa...kami tahu kamu gak sengaja. Udah, tenang aja. Kamu gak bakal dimarahin...Nanti mama dan papa akan membela kamu... JLEB...


Jujur aja, kita masih sulit bersikap dewasa dengan mengakui kesalahan yang kita lakukan baik sengaja atau tidak. Kita juga tidak bisa berbesar hati dengan mengakui bahwa ya itu salah kita dan karenanya kita akan bertanggung jawab atas konsekuensinya. Gue aja masih kayak gitu kok, ngaku...
Kayaknya tuh untuk mengakui kita bersalah itu beraaaat banget. Selain satu, udah malu duluan akibat dari perbuatan yang dilakukan tersebut (itu, kalau punya malu sih...), atau sudah kepalang basah ketauan banyak orang jadi gak mau ngaku salah. Wah, ngapain juga gue ngaku salah? Itu khan bukan murni salah gue, tapi karena ini dan itu. Nah, lebih parah lagi, kalau gak merasa bersalah sama sekali dan tetap keukeuh kalau tindakannya itu bener. Plus, didukung pula sama orang-orang terdekat. Sama aja dengan orang yang audisi untuk ikut lomba menyanyi tapi gak bisa menyanyi dengan suara yang enak di dengar orang lain. Lah, kok jadi merembet kemana-mana.


Jadi mesti ada rem dari diri sendiri yang bertugas mempertimbangkan, menghayati, menilai (kok udah kayak surat perintah) dan akhirnya memutuskan serta melaksanakan yang ada di dalam benak pikiran kita. Efeknya nanti apa ya kalau saya melakukan ini atau gimana kalau saya melakukan itu? Apakah konsekuensi yang mungkin terjadi akibat dari perbuatan saya? Bagaimana kalau efek "KEJUTAN" itu berakibat fatal pada orang lain. Apakah masih mau mengatakan pada diri sendiri bahwa ITU BUKAN SALAH SAYA?Begitukah kita yang dewasa?

2 komentar:

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box