Jumat, 18 November 2011

Permisiiii

Setiap pagi sekarang gue nemenin Nyokap untuk berjalan pagi dengan catatan kalau dia sedang bersemangat...

Nyokap gue tentu aja udah gak kayak dulu lagi dimana dia bisa tahan ngiderin Pasar Baru atau mall seharian penuh tanpa merasa lelah sedikitpun. Sekarang beliau berjalan perlahan dengan bantuan tongkat sehingga gue harus mengakui bahwa lebih capek nemenin dia jalan daripada gue harus naik turun 4 tangga penyeberangan. Karena dia jalan pelan itu beberapa kali kita harus berhenti karena ada motor lewat ataupun orang lewat.





Dari situ Nyokap gue berkomentar bahwa orang sekarang udah kehilangan kemampuan untuk bersopan santun. Soalnya, dari sekian banyak orang yang kita persilahkan jalan duluan itu paling hanya 10% yang berbicara,"Maaf bu, kita permisi ya..." atau cukup ngomong "Permisi" aja...

Yang gue perhatikan justru kebanyakan yang mau berbasa basi untuk mengucapkan kata "PERMISI" itu adalah para tukang ojek, tukang jualan es krim dan para buruh-buruh kasar yang sedang mengangkut bahan-bahan bangunan. Sementara para ibu-ibu kita tercinta ini melengos aja jalan kadang malah pake acara melotot. Seolah gue dan Nyokap ini perlu dibasmi karena menghalangi jalannya dia...

Hahahah, ngomong-ngomong soal basa basi begini jadi ingat pernah baca perbedaan kebudayaan soal masalah tubruk menubruk di jalan ini. Di Korea katanya kita gak bisa marah kalau orang yang menyeruduk kita di jalan (ini maksudnya sesama pejalan kaki ya bukannya antara mobil dan pejalan kaki) apalagi melihat si penyeruduk itu gak minta maaf. Soalnya menurut mereka, mestinya yang diseruduk tahu kalau yang menyeruduk itu gak sengaja. Jadi ngapain juga minta maaf? Hihihi

Sementara di Eropa, para penumpang kendaraan umum pasti mengucapkan kata permisi sebelum mereka melewati orang lain.

Nah, terus kalau di Indonesia?

Kayaknya kebudayaan berbasa basi mengatakan "PERMISI" ini makin lama makin hilang. Atau mungkin memang sudah gak perlu mengingat toh kita yang mendahului orang lain dan sampai menyeruduk itu kan gak sengaja? Jadi buat apa basa basi bilang "PERMISI" apalagi "MAAF" ?

(Obrolan gak penting...hehehehe)

2 komentar:

  1. Menarik yaa.. betapa para buruh kasar yang seringkali dianggap kurang berpendidikan itu justru in a way lebih tahu sopan santun dibanding mereka yang (seringkali merasa dirinya lebih) berpendidikan :))

    BalasHapus
  2. kata temen saya yg tinggal di jkt , orang berterima kasih (rasanya hampir sama ya ) hanya pada org yg selevel, jd kalo ada pekerja toko dsb sdh melayani nggak perlu emreka bilang terima kasih, krn nggak selevel ? kaget aku diceritain bgt ... rasanya mengucapkan kata permisi, nggak jauh beda juga kayak mengucapkan terima kasih saat org lain tlah membantu kita sedikitpun itu.

    btw, menemani orang tua jalan jalan memang membutuhkan kesabaran khusus ya, aku sdh sktr 2 tahun ini ditemani mama mertua krn beliau tinggal bersama kami, byk yg bisa dipelajari dr dunia lanjut usia spt mamaku yg usianya 5 bulan lagi 88 tahun

    btw, apa kbr ?

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box