Jumat, 16 September 2011

Let's be happy


Gue dan teman-teman mantan di SMA yang sama di daerah Matraman punya tempat makanan favorit yang sama. Yaitu tempat bakmi BBT (konon pula singkatan dari Baba Tong). Coba aja salah satu dari kita update status sedang makan disana, pasti deh para mantan murid di sekolah itu akan langsung bereaksi. Salah seorang temen gue tapi malah bertanya, apa iya makanannya masih seenak dulu? Dan gue dengan bercanda mengatakan yah...tergantung yang masak deh. Kalau dia lagi happy ya masakannya enak. Nah, kalau dia lagi bad mood ya apes aja kita yang makan karena rasanya pasti hambar. Beuh, sok tau bener gue yak.




Tapi terlintas di benak gue adegan sitcom di TVRI (buhuuu, lama buanget) tentang dua saudara yg kalau gak salah namanya Larry (si orang kota) dan Balky (sepupu dari kampung). Si Balky ini punya resep bikin kue tradisional yang enak banget. Tapi menurut dia resep sebenarnya adalah karena kue itu dibuat dengan perasaan senang sehingga menjadikannya enak disantap. Nah, dasar si Larry maruk dia menyalurkan kue itu ke toko dan memang disukai. Tapi toko meminta pasokan lebih banyak lagi. Ketika mereka dan teman-temannya sudah mulai kepayahan karena harus bikin banyak banget...bikin kue itu mendadak menjadi gak fun lagi buat mereka. Dan tau sendiri dong segala sesuatu yang dikerjakan dengan bete itu ya hasilnya bisa jadi gak maksimal.

Kalau orang sedang bete biasanya susah konsentrasi akan apa yang harus mereka kerjakan pada saat itu. Pikirannya pasti lebih kepada masalah yang membuat mereka bete. Kalau kasusnya Balki dan Larry itu jelas karena mereka stress harus memenuhi kuota pemesanan yang begitu banyak. Dari yang membuat kue untuk senang-senang mendadak dituntut membuat sebaik mungkin dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang singkat.

Gak cuman soal makanan sih, soal potong rambut juga gue pernah mengalami sendiri. Jadi si penata rias itu bercerita (sambil memotong rambut gue) ke penata rias di sebelahnya (yang juga tengah menangani langganannya) tentang dia sedang kesal karena sesuatu. Mukanya juga terlihat murung sepanjang pembicaraan yang tidak mau gue campurin itu. Dan hasilnya, rambut gue gak ada bagus-bagusnya sama sekali. Hih, mau marah juga rasanya percuma karena bisa-bisa rambut gue malah dibotakin dueh.

Jadilah sejak saat itu gue selalu berharap mudah-mudahan si hairdresser in a very good mood. Begitu juga kalau sedang berada di restoran atau kedai, berharap semoga mereka sedang happy dan karenanya melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. Sehingga kita pelanggannya bisa merasakan nikmatnya hasil pekerjaan mereka tersebut :D

Hayooo, pasang muka happy, bikin hati happy, supaya hasilnya juga bikin semuanya happy :D

2 komentar:

  1. tapi bener lho yg lg kamu ceritain .... ttg kalau yg masak lagi bad mood ya masakannya nggak karu2an rasanya ... kayak aku, kalo lg pas mau bulannya dtg ... ampun pasti kalo masak ada ada saja masalahnya soalnya hati ndak karuan .... jadi skrg kalau tahu dah ada tanda2 bgt lbh suka sehari sebelumnya nyiapin sebelumnya, jd cuma menghangatkan saja

    tapi kalu di salon bgt, aduh ampun deh kalau mbak2nya lagi bad mood, mending nggak potong aja ya

    BalasHapus
  2. akyu gak nyadar kalau mbak2nya itu lagi jutek. pas duduk, buset baru kedengaran dueh omelan2nya...

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box