Rabu, 24 Agustus 2011

Funny thing called friendship

Beberapa waktu lalu gue pernah iseng bertanya pada beberapa orang, apa yang akan mereka jawab jika seorang teman dekat mereka melihat dari atas sampai bawah dan mengatakan bahwa baju yang mereka pakai itu baju yang biasanya digunakan oleh para pembantu?

Jawabannya tentu aja beragam...

Umumnya mempertanyakan, memangnya kenapa kalau seseorang bekerja menjadi pembantu? Apa karena bekerja sebagai pembantu itu lantas tidak bisa disebut sebagai manusia? Karena tidak bisa disebut sebagai manusia maka apa kita akan merasa terhina disamakan dengan pembantu?



Topik ini bisa jadi buanyaaaak bahan buat diobrolin...

Antara lain ya mengenai pembantu itu sendiri. Jujur aja, terkadang kita memandang orang yang bekerja sebagai pembantu itu sebagai warga kelas dua. Asumsi kita akan orang-orang ini adalah pastinya mereka tidak punya latar pendidikan yang baik. Plus, mereka pasti tidak cerdas makanya hanya berakhir sebagai pembantu. Kita sudah memandang remeh mereka sehingga jelas aja kita tidak menganggap mereka ada sama sekali. Nah, lalu kita disamaratakan dengan orang yang kita anggap remeh oleh teman sendiri... Bete khan?
Padahal kalau kita rada nyadar, sebenarnya beberapa pekerjaan di kantor itu pun kurang lebih intinya sama aja denagn pembantu. Kita membantu si boss dalam menjalankan pekerjaannya di kantor. Dan terkadang, kewajiban itu pun harus kita laksanakan untuk urusan pribadi si boss. Sebutan kita di kantor sih keren: asisten. Tapi kalau dilihat di kamus, asisten yang berasal dari kata assistant itu artinya adalah: PEMBANTU.
Jreng.


Kedua, jika kita memandang rendah seseorang karena bekerja sebagai pembantu lalu kita memandang teman kita sama sebagai pembantu tersebut... Lantas, apa hubungan persahabatan itu masih bisa dikatakan persahabatan jika seseorang telah memandang rendah pada yang lainnya? Jika dimata seseorang temannya itu tidak lebih baik dari orang yang sering ia anggap rendah maka apa gunanya persahabatan itu? Persahabatan adalah hubungan baik di antara dua atau lebih dimana semua pihak saling menerima satu sama lain. Jika tidak ada perasaan demikian, mungkin mesti dipikirin lagi hubungan persahabatannya khan?

Ketiga, sebenarnya seberapa jauh batasan elo bicara blak-blakan sama temen sendiri? Misalnya temen kita itu memang rada nyeleneh dalam berpakaian atau rada nyentrik. Apakah kita akan langsung aja berbicara blak-blakan apa saja yang ada dalam pikiran kita? Atau setidaknya mencari tahu kenapa sih temen kita demen banget dengan gaya pakaian yang rada-rada nggak biasa itu (misalnya demen pake yang super mini sampai seperti kelihatan kekurangan bahan pakaian). Tentunya ada alasan kenapa orang sampai punya gaya tertentu dalam berpakaian, diakui atau tidak. Biar bagaimana, kita pasti akan memilih baju yang menurut kita nyaman digunakan. Jadi, apa gak bisa dicari omongan yang lebih enak di dengar ketimbang berusaha membuat orang lain merasa lebih rendah dari kita?



Menarik bagaimana komentar seseorang soal baju yang dikenakan sahabatnya bisa menjadi bahan pembicaraan dan kesempatan untuk menilai seperti apakah sebenarnya teman kita tersebut.

2 komentar:

  1. kalau di sini, terus terang nggak ada perbedaan seperti itu. Karena pembantu di sini juga dibayar mahal, bisa sampai 20 Euro perjam nya .... per jam lho, bukan per hari atau per bulan. Jadi lain ladang lain belalangnya ya.

    bukan bermaksud membandingkan antara tanah air dan di tempaku sini, tapi karena memang kenyataannya begitu. Di sana tidak sedikit orang hanya memandang kulit luarnya saja. percuma rasanya ada pepatah, jangan lihat buku dr sampulnya saja, krn prakteknya ndak ada

    aku kalau lagi liburan ke tanah air juga biasa berpakaian semauku, yang nyaman, yg seringnya mungkin dianggap org lain spt org nggak punya, nggak masalah buatku, mungkin krn aku sdh terbiasa hidup di sini, pastinya berbeda dgn orang orang di sana. duh .. kalau dilanjutkan bisa panjang nih komentarku :)

    BalasHapus
  2. makasih loh buat komen panjangnya :D Nah, berarti bisa dibikin postingan sendiri nih ... Heheheheh

    BalasHapus

Thx for reading & comments :) THX also for following my IG @riamrt & twitter @riatumimomor

Aplikasi Blog Di iOS

Aplikasi Blog Di iOS
Install this & bring my blog everywhere you go

Shoplinks Asia

My Goodreads

Ria's books

A Storm of Swords
The Last Town
Wayward
Pines
Miramont's Ghost
Child 44
Mr. Mercedes
Deception
Sidney Sheldon's Angel of the Dark
A Clash of Kings
A Game of Thrones
Outlander
One for the Money
The Silkworm
Grotesque
Let Me Go
Kill You Twice
The Night Season
Evil at Heart
Sweetheart


Ria Tumimomor's favorite books »

Remote Submitter

Submit Express

Search Box